De Zerbi: Dari Jurang Degradasi ke Ambisi Juara, Tottenham Berbenah Total
Baca dalam 60 detik
- Tottenham menggelontorkan dana segar ยฃ237 juta untuk belanja pemain baru di bawah arahan Roberto De Zerbi, setelah nyaris terdegradasi musim lalu.
- Pelatih asal Italia itu menerapkan pendekatan personal dalam perekrutan, termasuk komunikasi langsung dengan keluarga pemain, untuk membangun ikatan emosional.
- Dengan target dua penyerang tambahan, Spurs mengincar Savinho dari Manchester City sebagai bagian dari rencana lima musim untuk kembali ke papan atas.

Empat bulan setelah ruang ganti Tottenham Hotspur porak-poranda di Sunderland, Roberto De Zerbi kini berdiri di Sydney dengan senyum lebar. Klub yang nyaris terdegradasi pada akhir musim 2025-26 itu telah berubah total: rekor belanja pemain sebesar ยฃ237 juta, suasana latihan yang ceria, dan ambisi untuk kembali ke papan atas Liga Inggris. De Zerbi, yang di musim lalu hanya memenangi tiga dari tujuh laga untuk menyelamatkan Spurs, kini percaya diri membawa klub ini bangkit dari keterpurukan.
Perjalanan Spurs musim lalu memang dramatis. Kekalahan 1-0 dari Sunderland di laga pertama De Zerbi membuat para pemain menangis di ruang ganti. Namun, pelatih berusia 47 tahun itu berhasil menjaga tim tetap di Premier League, meski hanya pada hari terakhir. Kini, dengan dukungan pemilik baru, Lewis Family Trust, dan chief executive Vinai Venkatesham, Spurs melakukan perombakan besar-besaran. Mereka merekrut Sandro Tonali (ยฃ100 juta dari Newcastle), Mateus Fernandes (ยฃ85 juta dari West Ham), serta Jan Paul van Hecke, Andrew Robertson, dan Martin Dubravka.
De Zerbi, yang dikenal dengan julukan "hiu" di bursa transfer, tidak ragu untuk terlibat langsung dalam perekrutan. Ia bahkan mengaku berbicara dengan orang tua Fernandes, dan berjanji akan menjadi "ayah kedua" bagi pemain muda itu. Pendekatan personal ini menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dengan klub-klub besar seperti Manchester United dan Manchester City. "Saya pantas menginginkan pemain top, karena Tottenham pantas membangun tim top," ujarnya.
Namun, di balik euforia belanja, ada strategi yang matang. Spurs memiliki dua rencana transfer: satu untuk degradasi, satu untuk bertahan. De Zerbi, yang mengaku tetap mau melatih Spurs di Championship, kini bekerja dengan "Plan A". Ia juga menghormati keinginan pemain seperti kapten Cristian Romero dan kiper Guglielmo Vicario yang mungkin hengkang. "Mereka bilang tidak ingin di sini. Saya jawab: bantu saya bertahan, lalu saya bantu kalian pergi. Jika tidak, kalian akan tenggelam bersama saya," kenangnya.
Perombakan manajemen juga menjadi sorotan. Johan Lange, direktur teknis, adalah satu-satunya sosok dari rezim lama yang bertahan. Mereka didukung oleh Rafi Moersen dan Dan Lewindon, yang datang dari City Football Group. Lewindon ditugaskan memperbaiki catatan cedera Spurs. De Zerbi sendiri mengaku "tidak ada tekanan" meski keluarga Lewis menyuntikkan ยฃ100 juta pada Juni lalu, dengan alasan klub-klub seperti Chelsea, Arsenal, dan Liverpool juga melakukan hal serupa.
De Zerbi juga dikenal lihai dalam negosiasi. Ia mengirim pesan kepada Van Hecke setelah bek itu memberi assist untuk Brighton yang menahan Spurs 2-2 pada April lalu. "Kamu ingin menjatuhkan Tottenham, sekarang kamu harus datang ke saya, tidak ada pilihan," katanya. Untuk Tonali, ia mengirim pesan sehari setelah Spurs memastikan bertahan, lalu bertemu langsung di rumah pemain di Brescia. Kini, ia mengisyaratkan akan mendatangkan dua penyerang lagi, termasuk Savinho dari Manchester City.
Meski belanja besar, De Zerbi menegaskan Spurs tidak boros. Ia menyebut penjualan Vuskovic sebagai keputusan bersama, dan menolak mendatangkan Joao Palhinha dari Bayern Munich karena paket finansialnya tidak cocok. "Saya menganggap uang Tottenham adalah uang saya sendiri. Seperti pemilik adalah ayah saya, saya tidak ingin meminta ayah kehilangan uang," ujarnya. Rencana jangka panjangnya adalah membangun tim selama lima musim.
Setelah trauma musim lalu, De Zerbi fokus mengubah mentalitas pemain. Ia mengajak mereka makan malam besar di Mayfair dengan alkohol, dan mengakui proses penyembuhan masih berlangsung. "Dengan cinta, persahabatan, dan perhatian, kamu bisa menjadi yang terbaik," katanya. Pertanyaannya, mampukah Spurs mempertahankan momentum ini dan bersaing di papan atas? Atau akankah musim ini menjadi ujian sesungguhnya bagi filosofi De Zerbi?



