Uber Pangkas Proyeksi Laba, Fokus Investasi Robotaxi Senilai Rp160 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Uber memperkirakan laba kuartal III di bawah ekspektasi analis, dengan proyeksi EPS 84-88 sen, imbas penguatan dolar AS.
- Perusahaan berkomitmen mengucurkan lebih dari US$10 miliar untuk pengembangan kendaraan otonom, meski tanpa jadwal pasti.
- Akuisisi Delivery Hero senilai US$14,8 miliar menjadi sorotan utama investor, sementara ekspansi robotaxi dinilai sebagai langkah jangka panjang.

Uber Technologies memperingatkan laba kuartal ketiga akan berada di bawah perkiraan analis, seiring dampak nilai tukar mata uang asing yang menggerus pertumbuhan pemesanan. Di tengah tekanan itu, perusahaan justru menegaskan komitmennya untuk menggelontorkan dana besar-besaran pada pengembangan kendaraan otonom dan akuisisi strategis, sebuah langkah yang dinilai investor sebagai taruhan jangka panjang di tengah persaingan industri ride-hailing yang kian ketat.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (5/8), Uber memproyeksikan laba per saham (EPS) kuartal III berada di kisaran 84 hingga 88 sen, lebih rendah dari konsensus analis yang dihimpun LSEG sebesar 89 sen. Sementara itu, gross bookings kuartal III diperkirakan mencapai US$58,25 miliar hingga US$60,25 miliar, nyaris sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar US$59,21 miliar. Manajemen menyebut penguatan dolar AS akan memangkas pertumbuhan gross bookings sekitar satu poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kabar ini sempat menekan harga saham Uber sekitar 3 persen pada perdagangan pramarket. Namun, yang lebih menarik perhatian pelaku pasar adalah rencana perusahaan untuk menginvestasikan lebih dari US$10 miliar (sekitar Rp160 triliun) dalam beberapa tahun ke depan pada teknologi kendaraan otonom, meski tanpa memberikan kerangka waktu yang jelas. Langkah ini mempertegas arah strategis Uber yang mulai bergeser dari sekadar platform pemesanan menjadi pemain utama di ekosistem robotaxi.
Selain itu, akuisisi Delivery Hero senilai US$14,8 miliar yang diumumkan bulan lalu menjadi sorotan utama. Kesepakatan yang akan dibiayai dari kas internal dan utang ini dinilai sebagai upaya Uber memperkuat dominasinya di segmen pengiriman makanan secara global. Analis menilai alokasi modal yang agresif ini menjadi ujian bagi manajemen dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.
Pada kuartal kedua, Uber mencatatkan kinerja yang solid. Gross bookings mencapai US$58,02 miliar, melampaui perkiraan analis sebesar US$57,06 miliar, sementara pendapatan inti yang disesuaikan juga berada di atas ekspektasi. Pendapatan naik 12 persen menjadi US$14,19 miliar, sedikit di bawah estimasi US$14,24 miliar akibat perubahan akuntansi di Inggris yang mengurangi pertumbuhan pendapatan yang dilaporkan tanpa memengaruhi fundamental bisnis.
CEO Dara Khosrowshahi mengaitkan kinerja kuat tersebut dengan permintaan yang meluas di berbagai wilayah dan layanan, termasuk lonjakan perjalanan selama Piala Dunia FIFA. Menurut perusahaan, lebih dari 8 juta wisatawan menggunakan layanan Uber di kota-kota tuan rumah selama turnamen tersebut. Selain itu, Uber mengklaim berhasil menambah pengguna baru terbanyak dalam setahun terakhir dibandingkan periode mana pun dalam lima tahun sebelumnya, yang mendorong pertumbuhan gross bookings hingga 24 persen.
Meski demikian, beban operasional naik sekitar 10 persen pada kuartal II, dengan peningkatan belanja di bidang pemasaran, riset, dan administrasi. Hal ini menunjukkan bahwa Uber masih dalam mode ekspansi agresif, yang berpotensi menekan margin dalam jangka pendek.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat pasar ride-hailing dan pengiriman makanan di dalam negeri yang terus tumbuh. Meski Uber telah hengkang dari Indonesia dengan menjual bisnisnya ke Grab pada 2018, strategi global Uber dalam mengadopsi kendaraan otonom dapat menjadi sinyal bagi pemain lokal seperti Gojek dan Grab untuk mulai mempertimbangkan investasi serupa. Regulator Indonesia juga perlu mengantisipasi regulasi yang mendukung uji coba kendaraan otonom, mengingat potensi efisiensi biaya yang besar di tengah kemacetan perkotaan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Uber mampu mengejar ketertinggalan di sektor robotaxi dari pesaing seperti Waymo dan Tesla, tetapi juga bagaimana perusahaan menjaga profitabilitas di tengah belanja modal yang besar. Dengan akuisisi Delivery Hero yang belum tuntas dan komitmen investasi otonom yang menggunung, tekanan terhadap arus kas akan semakin terasa. Apakah langkah berani ini akan membuahkan hasil atau justru menjadi bumerang bagi kinerja keuangan Uber? Waktu yang akan menjawab, namun investor tentu akan mencermati setiap perkembangan dalam beberapa kuartal mendatang.



