AMD Terjun Bebas di Pasar Saham: Target Pendapatan Tak Cukup untuk Redam Ekspektasi Investor AI
Baca dalam 60 detik
- Saham AMD anjlok 7,4% setelah proyeksi pendapatan kuartal III dinilai kurang agresif di tengah euforia AI.
- Kapitalisasi pasar AMD berpotensi tergerus US$61,1 miliar, menyoroti tekanan tinggi untuk menyaingi Nvidia.
- CEO Lisa Su menargetkan pendapatan pusat data berlipat ganda pada 2027, tetapi pasar menginginkan bukti pertumbuhan lebih cepat.

Saham Advanced Micro Devices (AMD) terpantau melemah tajam pada perdagangan Rabu pagi waktu AS, menyusul proyeksi pendapatan kuartal III yang sebenarnya melampaui estimasi analis, namun gagal memenuhi ekspektasi investor yang sudah melambung tinggi akibat geliat bisnis kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan data pasar, saham AMD sempat merosot 7,4 persen ke level US$480,28, berpotensi menghapus nilai pasar sekitar US$61,1 miliar. Penurunan ini mencerminkan tekanan luar biasa yang dihadapi perusahaan asal Santa Clara, California, itu di tengah upayanya menantang dominasi Nvidia di segmen chip AI, sekaligus bersaing ketat dengan Intel yang tengah berusaha merebut kembali kepemimpinan teknologi.
Proyeksi pendapatan AMD untuk kuartal III sekitar US$13 miliar, dengan toleransi plus minus US$300 juta, sebenarnya berada di atas perkiraan analis yang dihimpun LSEG, yakni US$12,52 miliar. Namun, para pelaku pasar menilai angka tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi bahwa belanja besar-besaran di bidang AI akan segera berbuah pertumbuhan pendapatan yang lebih agresif.
Stacy Rasgon, analis Bernstein, menilai ekspektasi pasar memang sudah meningkat setelah Intel merilis hasil keuangan yang kuat beberapa pekan lalu. "Kami menduga ekspektasi telah bergerak lebih tinggi setelah hasil Intel, dan sisi pembeli sudah memiliki pandangan yang cukup optimistis," ujarnya. Sementara itu, analis TD Cowen menyebut hasil dan panduan AMD "secara objektif baik", tetapi sahamnya menghadapi "standar yang sangat tinggi" setelah sejumlah pengumuman pelanggan terkait AI dan reli tajam harga saham.
Sepanjang tahun ini, harga saham AMD telah berlipat ganda lebih dari dua kali lipat, didorong harapan bahwa perusahaan akan menjadi alternatif utama Nvidia dalam chip AI. Kondisi ini membuat standar kinerja kuartalan semakin tinggi. CEO Lisa Su menyatakan pihaknya memperkirakan pendapatan pusat data akan tumbuh lebih dari dua kali lipat pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan total di atas target sebelumnya yang sebesar 35 persen. Pendapatan pusat data AMD sendiri tercatat mencapai US$6,72 miliar, melampaui ekspektasi.
Langkah strategis AMD juga terlihat dari penandatanganan kesepakatan dengan Anthropic dan Core Scientific pada bulan lalu untuk memperkuat ambisi infrastruktur AI. Namun, respons pasar yang negatif mengindikasikan bahwa investor menginginkan bukti yang lebih nyata dari terjemahan belanja AI menjadi pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat.
Bagi pasar Indonesia, pergerakan saham AMD ini relevan mengingat banyak perusahaan teknologi dan pusat data di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang mulai mengadopsi infrastruktur AI. Kinerja AMD dan Nvidia akan memengaruhi harga dan ketersediaan chip AI yang menjadi tulang punggung pengembangan AI di kawasan. Jika AMD gagal memenuhi ekspektasi, hal ini bisa menjadi sinyal bagi investor regional untuk lebih berhati-hati dalam menilai valuasi perusahaan teknologi yang terkait AI.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah AMD mampu mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan pusat datanya seiring meningkatnya persaingan dan ekspektasi pasar yang semakin tinggi. Dengan target ambisius Lisa Su, semua mata akan tertuju pada kemampuan AMD dalam mengeksekusi strategi AI-nya dan apakah pasar akan terus memberi premi pada sahamnya.



