Novel Terakhir Seri Galileo Karya Keigo Higashino Rilis, Perpisahan yang Manis bagi Penggemar
Baca dalam 60 detik
- Novel pamungkas 'Eien no Kioku' dari seri Galileo resmi beredar, menandai karya ke-106 mendiang Keigo Higashino.
- Antusiasme pembaca Jepang terlihat dari acara hitung mundur tengah malam di Kinokuniya Shinjuku, dengan banyak yang mengambil cuti untuk membaca.
- Seri Galileo telah mencetak rekor penjualan 16,6 juta kopi, membuktikan daya tarik lintas generasi dan negara, termasuk Indonesia.

Kurang dari dua pekan setelah Keigo Higashino berpulang akibat kanker usus pada usia 68 tahun, novel terakhir dalam serial Galileo yang melegenda akhirnya hadir di rak-rak toko buku. Buku berjudul "Eien no Kioku" (Memori Abadi) ini dirilis Rabu lalu, langsung menjadi pusat perhatian para penggemar setia yang telah lama menantikan penutup dari kisah detektif fisika Manabu Yukawa.
Momen peluncuran terasa berbeda dari biasanya. Di toko buku Kinokuniya, kawasan Shinjuku, Tokyo, puluhan penggemar berkumpul sejak tengah malam untuk mengikuti acara hitung mundur. Mereka datang bukan sekadar untuk membeli, tetapi untuk merayakan sekaligus mengucapkan selamat tinggal pada salah satu karya terakhir sang maestro misteri. Bagi banyak orang, kehadiran novel ini adalah penutup yang manis di tengah duka yang masih menyelimuti dunia sastra Jepang.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena Higashino bukanlah hal asing. Novel-novelnya seperti "The Devotion of Suspect X" dan "Journey Under the Midnight Sun" telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan digemari oleh pembaca lokal. Popularitasnya yang melintasi batas negara, termasuk Asia Tenggara, menunjukkan bahwa cerita detektif dengan sentuhan ilmiah dan emosional memiliki daya tarik universal. Kehadiran novel terakhir ini pun menjadi momen yang dinanti, meski harus diiringi rasa kehilangan.
Dalam acara sebelum hitung mundur, para editor yang pernah bekerja sama dengan Higashino berbagi kenangan tentang penulis yang dikenal perfeksionis itu. Mereka mengenang bagaimana Higashino selalu menekankan pentingnya logika dan detail dalam setiap alur cerita, sesuatu yang menjadi ciri khas serial Galileo. Bagi mereka, kehilangan ini bukan hanya soal berakhirnya sebuah karya, tetapi juga hilangnya salah satu pemikir terbaik dalam genre misteri.
Junko Kato, seorang pekerja kantoran asal Yokohama yang hadir pada acara tersebut, mengaku telah mengambil cuti keesokan harinya. "Begitu mulai membaca, saya tidak bisa berhenti," ujarnya. "Sedih rasanya karena tidak akan ada lagi karya baru, tapi saya ingin membaca ulang semua karyanya lagi dan lagi." Pernyataan ini mencerminkan perasaan banyak penggemar yang masih sulit menerima kepergian sang penulis.
Serial Galileo sendiri telah menjadi fenomena budaya di Jepang. Dengan tokoh utama Manabu Yukawa, seorang fisikawan genius yang memecahkan kasus-kasus rumit dengan pendekatan ilmiah, serial ini berhasil memadukan sains dan misteri secara apik. Kesuksesannya tidak hanya di atas kertas; adaptasi televisi dan film yang dibintangi oleh Masaharu Fukuyama juga meraih popularitas besar, memperluas jangkauan cerita ke khalayak yang lebih luas.
Bagi industri penerbitan, perilisan novel ini menjadi momen penting. Ini bukan sekadar peluncuran buku biasa, melainkan penanda berakhirnya sebuah era dalam sastra misteri Jepang. Pertanyaannya, akankah ada penulis lain yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Higashino? Atau justru karya-karyanya akan terus hidup dan menginspirasi generasi penulis berikutnya, baik di Jepang maupun di Indonesia?



