Sambaran Petir Tewaskan Pesepakbola Thailand di Tengah Laga: Seorang Pemain Malaysia Turut Terluka
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemain sayap Yala FC, Sofwan Awae (24), tewas setelah tersambar petir saat laga semifinal Piala Golok FA di Stadion Santiphap, Narathiwat, Thailand, Selasa (4/8) sore.
- Insiden yang terjadi saat hujan deras itu juga melukai 12 orang lain, termasuk pemain Malaysia berusia 22 tahun, Mohammad Alif Ezzahan Zulkifli, yang kini dirawat di Rumah Sakit Sungai Golok.
- Peristiwa ini menyoroti risiko cuaca ekstrem bagi atlet di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memicu pertanyaan tentang prosedur keselamatan pertandingan saat kondisi berbahaya.

Seorang pesepakbola Thailand kehilangan nyawanya setelah tersambar petir di tengah pertandingan sepak bola di Stadion Santiphap, Sungai Golok, Provinsi Narathiwat, Thailand selatan, Selasa (4/8) sore. Insiden yang terjadi sekitar pukul 17.30 waktu setempat itu juga melukai 12 orang lainnya, termasuk seorang pemain asal Malaysia, dan memicu duka mendalam di komunitas sepak bola regional.
Korban jiwa adalah Sofwan Awae, pemain sayap berusia 24 tahun dari klub semi-profesional divisi ketiga Yala FC. Ia sedang memperkuat tim Abu x Nong Sirin dalam laga semifinal turnamen Piala Golok FA, sebuah kompetisi regional yang mempertemukan klub-klub dari Thailand dan Malaysia. Pertandingan berlangsung dalam kondisi hujan deras, dan petir menyambar lapangan saat kedua tim tengah bertarung memperebutkan tiket final.
Kepala Polisi Sungai Golok, Thun Sirikhunt, mengatakan bahwa tim medis darurat berupaya maksimal menyelamatkan Sofwan, namun cedera yang dideritanya terlalu parah. “Meskipun tim medis darurat telah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya, korban meninggal dunia akibat cedera parah yang dideritanya,” ujarnya seperti dikutip Bernama. Sofwan sebelumnya memperkuat Pattani FC dan baru bergabung dengan Yala FC beberapa hari sebelum kejadian, menurut laporan Thai Enquirer.
Pemain Malaysia yang menjadi korban luka adalah Mohammad Alif Ezzahan Zulkifli, 22 tahun. Ia memperkuat SAMCOLT, tim campuran yang berisi pemain Thailand dan Malaysia, dalam turnamen yang juga diikuti oleh klub asal Malaysia seperti Kelantan FC. Para pemain yang cedera langsung dilarikan ke Rumah Sakit Sungai Golok untuk mendapatkan perawatan intensif. Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko cuaca ekstrem di kawasan Asia Tenggara, yang kerap dilanda badai petir pada musim hujan.
Bagi Indonesia, insiden ini relevan mengingat banyaknya turnamen sepak bola amatir dan semi-profesional yang digelar di berbagai daerah, sering kali tanpa protokol keselamatan yang memadai terhadap cuaca buruk. Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) telah menyampaikan belasungkawa, dan Yala FC juga mengungkapkan duka mendalam. “Asosiasi turut berduka atas kehilangan ini dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, pihak terkait, dan klub sepak bola di masa duka ini,” demikian pernyataan resmi FAT.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya prosedur keselamatan dalam penyelenggaraan pertandingan, terutama di negara dengan iklim tropis. Pertanyaan yang muncul: apakah turnamen seperti Piala Golok FA memiliki protokol penundaan pertandingan saat terjadi petir? Di banyak liga profesional, aturan seperti '30 menit setelah petir terakhir' telah diterapkan, namun di level amatir dan semi-profesional, kesadaran akan hal ini masih rendah.
Ke depan, insiden ini diharapkan menjadi momentum bagi federasi sepak bola di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk meninjau ulang standar keselamatan pertandingan, khususnya terkait cuaca ekstrem. Apakah akan ada perubahan kebijakan yang lebih ketat? Atau akankah tragedi serupa terulang? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun nyawa yang melayang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.



