AMD Ungguli Ekspektasi Pendapatan, tapi Saham Justru Terjun: Investor Tuntut Bukti Lebih dari Bisnis AI
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan kuartal II AMD melonjak 50% menjadi US$11,54 miliar, melampaui perkiraan analis, tetapi sahamnya justru merosot 9% di perdagangan lanjutan.
- Investor menilai proyeksi pendapatan kuartal III sebesar US$13 miliar belum cukup untuk membenarkan valuasi saham yang telah berlipat ganda tahun ini.
- Kesepakatan strategis dengan Anthropic dan Core Scientific menunjukkan AMD serius menantang dominasi Nvidia di pasar infrastruktur AI.

Jakarta, LyndHub โ Advanced Micro Devices (AMD) mencatatkan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar, didorong permintaan chip untuk pusat data yang meroket seiring gelombang investasi kecerdasan buatan (AI). Namun, alih-alih merayakan, investor justru menghukum saham perusahaan dengan penurunan hampir 9% pada perdagangan setelah jam bursa. Sikap ini mengindikasikan bahwa pasar menuntut pertumbuhan yang lebih agresif dari produsen chip asal Santa Clara, California, tersebut.
Laporan keuangan AMD untuk periode AprilโJuni 2025 menunjukkan pendapatan melonjak 50% menjadi US$11,54 miliar, mengungguli estimasi analis sebesar US$11,28 miliar. Laba disesuaikan per saham juga tercatat US$1,66, lebih tinggi dari proyeksi US$1,62. Pendapatan divisi pusat data, yang menjadi mesin pertumbuhan utama, bahkan berlipat ganda menjadi US$6,72 miliar, tumbuh 16,3% secara kuartalan.
Untuk kuartal ketiga, AMD memperkirakan pendapatan sekitar US$13 miliar, sedikit di atas konsensus analis yang dihimpun LSEG sebesar US$12,52 miliar. Margin kotor disesuaikan diproyeksikan sekitar 56%, sejalan dengan perkiraan. Namun, angka-angka ini dinilai belum cukup untuk memuaskan investor yang telah mendorong harga saham AMD naik lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini, terutama setelah gelombang optimisme AI melanda pasar modal global.
Menurut Jacob Bourne, analis dari Emarketer, AMD kini berada di posisi yang mirip dengan Nvidia dan para raksasa hyperscaler. "Investor mencari bukti bahwa investasi infrastruktur AI akan terus menghasilkan imbal hasil yang semakin cepat," ujarnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa pasar tidak lagi sekadar menilai proyeksi pendapatan, melainkan juga kemampuan AMD dalam mengeksekusi strategi jangka panjang di tengah persaingan ketat dengan Nvidia.
CEO AMD, Lisa Su, dalam konferensi pers usai rilis laporan keuangan, menegaskan bahwa perusahaan memperkirakan penjualan pusat data akan lebih dari dua kali lipat pada 2027. Ia juga menargetkan pertumbuhan pendapatan total di atas 35% dan laba tahunan di atas US$20 per saham, sesuai dengan target yang ditetapkan pada hari analis 2025. Proyeksi ini menunjukkan bahwa investasi AMD untuk menantang dominasi Nvidia mulai membuahkan hasil, dengan penjualan prosesor pusat data yang semakin cepat.
AMD tidak lagi hanya menjual chip individual, melainkan menawarkan sistem AI terintegrasi yang menggabungkan prosesor, perangkat jaringan, dan perangkat keras terkait. Langkah ini memungkinkan AMD bersaing lebih efektif dengan produk rack-scale milik Nvidia, yang pada Maret lalu meluncurkan CPU "Vera" generasi terbaru untuk dipasangkan dengan lini GPU "Rubin". Su mengungkapkan bahwa platform AI rack-scale AMD pada 2027 akan menggabungkan GPU MI500, CPU Verano, dan jaringan Pensando dalam satu sistem yang mendukung konektivitas tembaga dan optik.
Selain itu, AMD diuntungkan oleh meningkatnya permintaan unit pemrosesan pusat (CPU) yang digunakan bersama GPU untuk tugas inferensiโproses komputasi saat pengguna berinteraksi dengan chatbot. Hal ini membantu AMD merebut pangsa pasar dari Intel, yang juga meningkatkan belanja modal untuk dua tahun ke depan guna memanfaatkan ledakan permintaan.
Pada ajang AI AMD bulan Juli lalu, Su mengumumkan bahwa server AI Helios generasi kedua, yang dilengkapi akselerator MI455X dan prosesor "Venice" buatan TSMC, telah memasuki produksi massal dan akan mulai dikirim dalam beberapa bulan mendatang. Perusahaan juga telah mengamankan sejumlah pelanggan besar dan perjanjian infrastruktur, termasuk kesepakatan dengan Anthropic untuk menjual server AI senilai puluhan miliar dolar AS, serta investasi hingga US$5 miliar di perusahaan pembuat Claude tersebut. Di sisi lain, AMD juga mengunci kapasitas pusat data hingga 2,5 gigawatt melalui kerja sama dengan Core Scientific.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa persaingan di industri semikonduktor global semakin ketat, yang berpotensi menurunkan harga teknologi AI di masa depan. Pemerintah Indonesia yang tengah gencar mendorong transformasi digital dan pengembangan ekosistem AI nasional dapat memanfaatkan situasi ini untuk menjalin kemitraan strategis dengan pemain seperti AMD, sembari tetap mewaspadai ketergantungan pada rantai pasok global. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu mengambil peran dalam rantai nilai AI global, atau hanya menjadi pasar konsumen semata?



