AMD Optimistis Pendapatan Kuartal III Tembus US$13 Miliar, Saham Justru Terkoreksi: Investor Tuntut Bukti Lebih dari Bisnis AI
Baca dalam 60 detik
- Proyeksi pendapatan AMD untuk kuartal III melampaui ekspektasi analis, didorong permintaan chip AI yang kuat.
- Meski fundamental membaik, pasar merespons negatif karena valuasi saham yang sudah tinggi, menuntut percepatan monetisasi investasi AI.
- Kesepakatan strategis dengan Anthropic dan Core Scientific menjadi kunci AMD dalam memperkuat posisi melawan Nvidia.

Advanced Micro Devices (AMD) memproyeksikan pendapatan kuartal III sekitar US$13 miliar, melampaui perkiraan analis yang berada di angka US$12,52 miliar. Optimisme ini ditopang oleh derasnya permintaan chip untuk pusat data yang tengah berekspansi besar-besaran demi mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, respons pasar justru berlawanan: saham AMD anjlok lebih dari 7% dalam perdagangan lanjutan, menandakan investor menilai proyeksi tersebut belum cukup untuk membenarkan valuasi yang sudah melambung.
Sepanjang tahun ini, harga saham AMD telah berlipat ganda lebih dari dua kali lipat, didorong euforia AI. Kini, investor mulai menuntut bukti bahwa belanja infrastruktur AI akan berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan yang akseleratif. "AMD kini berada di posisi yang mirip dengan Nvidia dan para raksasa hyperscaler, di mana investor mencari bukti bahwa investasi infrastruktur AI akan terus menghasilkan imbal balik yang semakin cepat," ujar Jacob Bourne, analis dari Emarketer.
Sebagai pesaing terdekat Nvidia di pasar unit pemrosesan grafis (GPU), AMD tidak hanya menjual chip individual, tetapi juga menawarkan sistem AI terintegrasi yang menggabungkan prosesor, perangkat jaringan, dan perangkat keras pendukung. Strategi ini dirancang untuk menyaingi penawaran rack-scale milik Nvidia dan memberikan opsi infrastruktur AI yang lebih lengkap bagi pelanggan.
Kinerja keuangan AMD pada kuartal II memang impresif. Pendapatan melonjak 50% menjadi US$11,54 miliar, melampaui estimasi US$11,28 miliar. Pendapatan dari segmen pusat data bahkan lebih dari dua kali lipat menjadi US$6,72 miliar, mengungguli ekspektasi US$6,48 miliar. Laba disesuaikan per saham mencapai US$1,66, lebih tinggi dari perkiraan US$1,62. Pertumbuhan ini tidak lepas dari meningkatnya permintaan unit pemrosesan sentral (CPU) yang digunakan berdampingan dengan GPU di server, yang sekaligus membantu AMD merebut pangsa pasar dari Intel.
Dalam acara AI yang digelar Juli lalu, CEO Lisa Su mengumumkan bahwa server AI generasi kedua Helios, yang dilengkapi akselerator MI455X dan prosesor "Venice" buatan TSMC, telah memasuki produksi penuh dan akan mulai dikirim dalam beberapa bulan mendatang. Namun, pasokan masih terkendala oleh ketergantungan AMD pada TSMC, terutama karena kapasitas pengemasan canggih yang ketat.
AMD juga agresif mengamankan pelanggan besar. Dua pekan lalu, perusahaan sepakat menjual server AI bertenaga chip MI450 hingga 2 gigawatt kepada Anthropic, pengembang model Claude, dengan nilai puluhan miliar dolar AS. AMD juga berkomitmen menginvestasikan hingga US$5 miliar di perusahaan yang tengah bersiap melantai di bursa tersebut, dengan syarat pencapaian tonggak tertentu. Selain itu, AMD mengunci kapasitas pusat data hingga 2,5 GW melalui kesepakatan dengan Core Scientific, sembari memperoleh waran pembelian saham perusahaan itu.
Di sisi lain, segmen klien dan gaming yang menyasar perangkat konsumen mencatat penjualan US$3,84 miliar pada kuartal II, sedikit di atas estimasi US$3,78 miliar. Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa lemahnya pasar PC, keterbatasan pasokan memori, dan kenaikan biaya memori dapat menekan permintaan serta margin ke depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan dengan upaya pemerintah dan swasta dalam membangun infrastruktur digital, termasuk pusat data dan pengembangan AI. Keputusan AMD untuk memperluas kapasitas produksi dan mengamankan pelanggan besar dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga chip di pasar global, yang pada akhirnya berdampak pada biaya pengembangan AI di dalam negeri. Ketergantungan pada TSMC juga menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi rantai pasok semikonduktor, sebuah pelajaran berharga bagi negara-negara yang tengah giat membangun ekosistem AI.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah AMD mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah tekanan rantai pasok dan ekspektasi investor yang kian tinggi. Dengan persaingan yang semakin ketat melawan Nvidia, kemampuan AMD untuk mengeksekusi strategi sistem terintegrasi dan memenuhi komitmen kepada mitra strategis akan menjadi penentu utama. Apakah pasar akan terus memberi premi valuasi bagi AMD, atau mulai menuntut realisasi laba yang lebih nyata?



