SpaceX Catat Pendapatan Melonjak 92% di Kuartal Perdana, tapi Saham Justru Tertekan Biaya AI
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan SpaceX kuartal II-2026 mencapai US$7,8 miliar, melampaui estimasi analis, didorong pertumbuhan Starlink dan bisnis AI.
- Kemitraan dengan Nvidia untuk pasokan chip AI menjadi sinyal ambisi besar, namun biaya operasional yang tinggi masih membebani profitabilitas.
- Pembukaan kuncian 911 juta saham pekan ini berpotensi menambah volatilitas harga saham SpaceX di pasar.

SpaceX akhirnya membuka buku keuangannya untuk publik. Pada Selasa (4/8), perusahaan antariksa milik Elon Musk itu mengumumkan pendapatan kuartal kedua yang melonjak 92 persen menjadi US$7,8 miliar, didorong oleh pertumbuhan bisnis internet satelit Starlink dan divisi kecerdasan buatan (AI). Namun, kabar positif tersebut tidak serta-merta menenangkan investor; saham SpaceX justru terkoreksi 7 persen dalam perdagangan akhir hari setelah sempat menguat 9,4 persen pada sesi reguler.
Laporan keuangan perdana ini menjadi ujian besar bagi SpaceX yang baru melantai di bursa pada Juni lalu. Pendapatan yang melampaui konsensus analis sebesar US$6,9 miliar menunjukkan bahwa mesin bisnis perusahaan benar-benar bekerja, tetapi sorotan tajam tertuju pada biaya AI yang masih tinggi. Elon Musk, dalam konferensi dengan analis, mengungkapkan bahwa perusahaan berharap mendapatkan "persentase signifikan" dari unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia tahun depan, seiring dengan pengumuman kemitraan pusat data dengan produsen chip tersebut.
Kabar kemitraan dengan Nvidia ini menjadi angin segar bagi SpaceX yang tengah gencar membangun infrastruktur AI. Namun, analis mengingatkan bahwa pendapatan yang masih bergantung pada segelintir pelanggan besar dan belanja modal yang tinggi menjadi risiko yang belum hilang. "Hasil ini positif, perusahaan berhasil memenuhi target pendapatan dan laba, yang kami yakini dapat meningkatkan ekspektasi investor terhadap kemampuan SpaceX dalam jangka pendek," ujar Ken Herbert, analis RBC Capital Markets.
Di sisi lain, kualitas laba yang dilaporkan juga menjadi perdebatan. Thomas Monteiro dari Investing.com menilai bahwa keuntungan yang mengesankan itu sebagian besar berasal dari penyesuaian akuntansi, terutama depresiasi. "Di balik itu, perusahaan masih beroperasi mendekati titik impas dan mengonsumsi kas dengan laju yang sulit ditiru banyak perusahaan," katanya. Sementara itu, Brian Mulberry dari Zacks Investment Management menyoroti dua data menonjol: pelanggan Starlink yang berlipat ganda dari 6 juta menjadi 12 juta, dan pendapatan AI yang naik 350 persen. "AI sudah mulai memonetisasi dirinya sendiri, tidak lagi bergantung pada Starlink untuk mendanai operasional. Ini kejutan besar," ujarnya.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini relevan dengan meningkatnya minat pada teknologi satelit dan AI. Starlink, yang telah beroperasi di Indonesia sejak 2023, menjadi salah satu pemain kunci dalam upaya pemerataan akses internet di daerah terpencil. Pertumbuhan pelanggan yang signifikan menunjukkan adopsi yang kuat, dan jika SpaceX terus memperkuat bisnis AI-nya, potensi kolaborasi dengan perusahaan teknologi lokal bisa terbuka lebar. Namun, investor Indonesia yang berminat pada saham SpaceX perlu mencermati volatilitas jangka pendek, terutama dengan adanya pembukaan kuncian 911 juta saham pekan ini.
Adam Sarhan dari 50 Park Investments mengingatkan bahwa fluktuasi harga saham setelah IPO adalah hal yang wajar. "Misi Elon adalah jangka panjang, bukan permainan kuartalan. Wajar jika ada gejolak di tahun-tahun awal," katanya. Namun, ia juga menekankan bahwa SpaceX harus terus memenuhi ekspektasi Wall Street yang sudah tinggi, sebuah tantangan berat bagi perusahaan yang baru melantai.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SpaceX mampu menjaga momentum pertumbuhan sambil mengendalikan biaya AI yang membengkak. Dengan kemitraan Nvidia dan ekspansi Starlink yang agresif, perusahaan tampaknya berada di jalur yang benar, tetapi tekanan untuk membuktikan profitabilitas berkelanjutan akan semakin besar. Mampukah SpaceX meyakinkan pasar bahwa investasi besar di AI akan membuahkan hasil jangka panjang?



