Pemakaman Franco Baresi: Ribuan Tifosi Beri Penghormatan Terakhir, Namun Ejekan untuk Pemilik AC Milan Tak Terhindarkan
Baca dalam 60 detik
- Ribuan pendukung AC Milan memadati area Basilika Sant'Ambrogio untuk memberi penghormatan terakhir kepada legenda Franco Baresi, yang wafat pada usia 66 tahun.
- Suasana duka berubah riuh ketika pemilik klub Gerry Cardinale dan presiden Paolo Scaroni tiba, disambut ejekan dan tuntutan agar segera menjual klub.
- Momen ini menyoroti ketegangan antara manajemen klub dan basis penggemar, yang masih menyimpan kekecewaan terhadap arah kebijakan RedBird Capital.

Suasana duka menyelimuti Milan saat ribuan pendukung AC Milan memadati area sekitar Basilika Sant'Ambrogio untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Franco Baresi, kapten legendaris yang wafat pada usia 66 tahun. Namun, di tengah tangis dan doa, terdengar pula ejekan keras yang ditujukan kepada pemilik klub, Gerry Cardinale, dan presiden Paolo Scaroni, menandakan ketegangan yang belum mereda antara manajemen dan basis penggemar.
Baresi, yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AC Milan dan kemudian menjabat sebagai wakil presiden kehormatan, meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Sejak Agustus 2025, ia menjalani perawatan intensif setelah ditemukan nodul paru-paru. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan rekan setim, tetapi juga bagi jutaan penggemar di seluruh dunia yang menganggapnya sebagai simbol loyalitas dan dedikasi.
Prosesi pemakaman yang digelar pagi hari itu berlangsung khidmat dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi Italia, Rete 4. Ribuan orang berbaris di sepanjang jalan, mengubah kawasan sekitar gereja menjadi lautan bendera dan spanduk bertuliskan penghormatan. Salah satu spanduk besar bertuliskan, "Legenda, abadi, bendera yang tak akan pernah berhenti berkibar. Ciao Kapten." Nyanyian dan sorak-sorai khas Curva Sud San Siro menggema, seolah mengiringi sang kapten untuk terakhir kalinya.
Namun, suasana haru berubah menjadi riuh ketika Gerry Cardinale, pemilik klub asal Amerika Serikat, tiba di lokasi. Begitu ia muncul dari basilika dan berbicara kepada wartawan, suara siulan dan ejekan langsung memecah keheningan. Sebagian pendukung meneriakkan tuntutan agar Cardinale segera menjual klub dan pergi dari AC Milan. Hal yang sama juga dialami oleh Paolo Scaroni, yang harus berjalan melewati kerumunan dengan diiringi sorak-sorai negatif. Bahkan, Wali Kota Milan, Giuseppe Sala, yang turut hadir, tidak luput dari ejekan tersebut.
Momen ini menjadi cermin nyata dari hubungan yang renggang antara manajemen klub dan para pendukung setia. Sejak RedBird Capital mengambil alih kepemilikan pada 2022, sejumlah kebijakan kontroversial, seperti kenaikan harga tiket dan keputusan transfer yang dianggap kurang ambisius, telah memicu gelombang protes. Bagi banyak tifosi, kehadiran Cardinale di pemakaman Baresi justru menjadi simbol dari perubahan yang mereka anggap telah menggerus identitas klub.
Di Indonesia, fenomena ini menarik untuk disimak, mengingat AC Milan memiliki basis penggemar yang sangat besar, termasuk di Tanah Air. Banyak penggemar Indonesia yang merasa terhubung secara emosional dengan klub dan para legendanya. Ketegangan antara manajemen dan suporter di Italia sering kali menjadi sorotan, dan bisa mempengaruhi cara pandang penggemar di luar negeri terhadap arah klub. Hal ini juga mengingatkan bahwa loyalitas suporter tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan harus dijaga melalui penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah dan tradisi klub.
Para analis sepak bola Italia menilai bahwa ejekan yang terjadi di pemakaman Baresi bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan sinyal kuat bahwa basis penggemar menginginkan perubahan nyata dalam kepemimpinan klub. Mereka menekankan bahwa manajemen perlu lebih mendengarkan aspirasi suporter dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan strategis. Jika tidak, ketidakpuasan ini bisa terus berlanjut dan berdampak pada performa tim di lapangan maupun stabilitas klub secara keseluruhan.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah: akankah Gerry Cardinale mampu memperbaiki hubungan dengan para pendukung, atau justru semakin terasing? Pemakaman Baresi mungkin menjadi momen refleksi bagi semua pihak untuk kembali menghidupkan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas AC Milan. Namun, jika ejekan tersebut menjadi preseden, perjalanan Cardinale di Milan tampaknya akan semakin berat.



