Fern Britton Sesali Ikut Strictly Come Dancing: 'Secara Emosional Sangat Menguras'
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara TV asal Inggris, Fern Britton, mengaku menyesal pernah berpartisipasi dalam Strictly Come Dancing 2012 karena tekanan emosional yang dialaminya.
- Dalam memoar dan wawancara terbaru, Britton mengungkap sejumlah komentar dan perilaku partner dansanya, Artem Chigvintsev, yang dianggap meruntuhkan kepercayaan dirinya.
- Chigvintsev membantah semua tuduhan tersebut, sementara kasus ini memicu diskusi tentang perlakuan di balik layar acara realitas dansa dan dampaknya pada kesehatan mental peserta.

Fern Britton, presenter TV asal Inggris yang namanya melambung lewat acara This Morning, kini mengungkap penyesalannya atas partisipasinya di Strictly Come Dancing edisi 2012. Dalam wawancara terbaru dengan majalah Best, perempuan 69 tahun itu menyebut pengalaman tampil di ajang dansa BBC tersebut sebagai periode yang "secara emosional sangat menguras", jauh dari kesan glamor yang kerap ditampilkan di layar kaca.
Britton, yang saat itu berpasangan dengan penari profesional Artem Chigvintsev dan finish di posisi ke-10, mengaku tidak siap secara mental menghadapi tekanan kompetisi. "Bukan masalah dansanya—saya justru menikmatinya—tetapi secara emosi ini melelahkan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa jika bisa kembali ke masa lalu, ia akan memberi tahu dirinya yang lebih muda tentang kerasnya realitas di balik panggung.
Pengakuan ini bukan yang pertama kali. Dalam memoarnya yang terbit tahun 2024, The Older I Get, Britton membeberkan sejumlah insiden yang dialaminya selama latihan. Ia mengaku sering menangis sebelum sesi latihan karena kepercayaan dirinya terkikis, terutama setelah komentar pedas dari Chigvintsev yang menyebut dirinya terbiasa dengan pasangan yang lebih muda dan memiliki kemampuan dansa lebih baik. "Komentar itu langsung menghantam kepercayaan diri saya," tulis Britton.
Lebih jauh, Britton juga mengklaim pernah mengalami perlakuan kasar secara verbal dan fisik dari Chigvintsev, seperti ditendang atau didorong saat latihan, serta ucapan bernada ancaman yang menurutnya hanya candaan. "Dia bilang, 'Pulanglah sebelum saya bunuh kamu.' Saya hanya bisa tertawa dan menjawab, 'Silakan, itu akan lebih mudah,'" kenang Britton dalam acara The Times pada 2024. Meski demikian, ia mengakui ada momen-momen menyenangkan dan bahwa mereka sempat akrab, tetapi kesan keseluruhan tetap suram.
Di sisi lain, Chigvintsev membantah seluruh tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya kepada Daily Express, ia menegaskan bahwa pernyataan Britton tidak mencerminkan situasi yang ia kenali dan menekankan bahwa ia selalu memperlakukan Britton dengan hormat dan tulus. "Saya tidak bisa membayangkan apa yang memicu pernyataan seperti ini," ujarnya, seraya berterima kasih atas dukungan penggemar dan teman-temannya.
Kontroversi ini memicu perbincangan lebih luas tentang budaya di balik layar acara realitas dansa, terutama di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental peserta. Di Indonesia, fenomena serupa juga pernah terjadi dalam ajang pencarian bakat atau kompetisi serupa, di mana tekanan kompetitif dan komentar juri atau pelatih kerap menjadi sorotan. Publik mulai menuntut transparansi dan perlindungan lebih bagi peserta, baik dari sisi psikologis maupun fisik.
Kasus Britton-Chigvintsev juga menyoroti dinamika kuasa antara selebritas dan profesional di industri hiburan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah komentar pedas dan perilaku tegas selama latihan masih bisa dianggap bagian dari profesionalisme, atau sudah melampaui batas etika? Regulasi dan kode etik di industri hiburan, termasuk di Indonesia, mungkin perlu diperkuat untuk mencegah terulangnya pengalaman serupa.
Ke depannya, akankah pengakuan Britton membuka pintu bagi peserta lain untuk berbagi pengalaman mereka? Atau justru memicu perdebatan tentang kredibilitas klaim yang belum terbukti? Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada manusia dengan perasaan yang perlu dijaga.



