Pasar Opsi Bersiap Hadapi Gejolak Nilai SpaceX hingga US$225 Miliar Jelang Rilis Laba Perdana
Baca dalam 60 detik
- Trader opsi memperkirakan pergerakan saham SpaceX hingga 15 persen, dengan kecenderungan bearish, menjelang laporan keuangan perdana perusahaan.
- Saham SpaceX telah jatuh 43 persen dari puncaknya, namun kapitalisasi pasar masih mencapai US$1,5 triliun, memicu kekhawatiran valuasi.
- Pembukaan kuncian saham 911,5 juta lembar pada 6 Agustus berpotensi menambah tekanan jual, meski ada spekulasi rebound.

Jelang rilis laporan keuangan perdana SpaceX pada Selasa (4/8), pasar opsi memperkirakan nilai perusahaan milik Elon Musk itu bisa bergejolak hingga US$225 miliar. Angka tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap fundamental bisnis roket dan satelit yang baru saja melantai di bursa pada Juni lalu.
Berdasarkan data ORATS, opsi SpaceX memperhitungkan potensi pergerakan saham sekitar 15 persen ke dua arah, namun dengan kecenderungan negatif. Sejak mencapai puncak penutupan US$201,80 tak lama setelah debut 12 Juni, harga sahamnya telah merosot 43 persen. Meski demikian, kapitalisasi pasar perusahaan masih bertengger di level US$1,5 triliun.
Analis menilai, kombinasi antara riwayat perdagangan yang masih singkat, penurunan harga yang tajam, dan ketidakpastian apakah pendapatan mampu mendukung valuasi, membuat harga opsi SpaceX jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar yang sudah mapan. Sebagai perbandingan, opsi Microsoft hanya memperhitungkan pergerakan 6,6 persen menjelang rilis laba pekan lalu. "Tingkat volatilitasnya sangat besar," ujar Ophir Gottlieb, CEO Capital Market Laboratories.
SpaceX diperkirakan membukukan kerugian sebelum bunga dan pajak sebesar US$1,55 miliar dari pendapatan hampir US$7 miliar. Angka ini akan menjadi ujian pertama bagi investor untuk menilai apakah model bisnis perusahaan mampu menghasilkan keuntungan di tengah persaingan industri antariksa yang semakin ketat.
Selain laporan keuangan, pasar juga mencermati pembukaan masa kuncian (lock-up) atas 911,5 juta saham milik insider, karyawan, dan investor awal yang akan berakhir pada 6 Agustus. Potensi pelepasan saham dalam jumlah besar ini dapat menambah tekanan jual. "Bobot bukti menunjukkan pasar opsi cenderung mengambil posisi short," kata Brent Kochuba, pendiri SpotGamma.
Data VettaFi menunjukkan, dana yang masuk ke ETF leverage panjang SpaceX mencapai US$401,1 juta, sementara dana inverse/short menarik US$296,8 juta. Selisih yang tipis ini mengindikasikan investor ritel terbelah. Sementara itu, short interest mencapai rekor tertinggi, dengan sekitar 63 persen free float dipinjamkan, menurut Peter Hillerberg dari Ortex Technologies. "Hampir tidak ada saham yang tersisa untuk dipinjam," katanya.
Bagi sebagian investor, lindung nilai menjadi mahal. Clint Sorenson, CEO Ascentis Asset Management, mengaku batal memasang synthetic hedge karena biayanya terlalu tinggi. "Tidak ada yang tertarik," ujarnya. Para short seller diperkirakan telah mengantongi keuntungan mark-to-market sekitar US$18,4 miliar berdasarkan harga penutupan 31 Juli di US$108,37.
Meski sentimen negatif mendominasi, sebagian trader opsi justru bersiap untuk rebound. Kontrak dengan harga strike di atas harga pasar menunjukkan permintaan yang sehat. "Jelas ada banyak trader yang berspekulasi untuk kembali ke harga IPO US$135, atau bahkan lebih tinggi," kata Steve Sosnick, chief strategist Interactive Brokers. Mark Spiegel dari Stanphyl Capital Partners memperingatkan posisi short sudah terlalu ramai, dan sebagian besar potensi penurunan mungkin sudah diperhitungkan.
Bagi investor Indonesia, gejolak SpaceX menjadi pengingat akan risiko valuasi perusahaan teknologi yang baru melantai. Fenomena ini juga relevan dengan pasar modal domestik yang mulai ramai dengan perusahaan rintisan. Pertanyaannya, apakah investor di tanah air akan belajar dari gejolak ini atau justru mengulangi pola yang sama?



