Monopoli Peluncuran: Ambisi Starlink SpaceX Kian Menyesaki Bisnis Roket Komersial
Baca dalam 60 detik
- SpaceX kini menguasai hampir 80% jadwal peluncuran Falcon 9 untuk satelit Starlink miliknya sendiri, mempersempit ruang bagi operator satelit lain.
- Perusahaan yang bergantung pada roket SpaceX kesulitan memesan slot hingga 2028-2029, sementara harga Falcon 9 naik dari $54 juta menjadi $74 juta.
- Dengan fokus pada Starship dan proyek AI orbital, SpaceX berpotensi memperdalam krisis akses antariksa bagi pemain kecil.

Dominasi SpaceX di bisnis peluncuran antariksa kian mengkhawatirkan para pesaingnya. Roket Falcon 9 yang selama ini menjadi tulang punggung industri kini semakin banyak digunakan untuk meluncurkan satelit Starlink milik perusahaan itu sendiri, menyisakan sedikit ruang bagi operator satelit lain yang selama ini menggantungkan nasib pada layanan Elon Musk.
Data yang dihimpun Reuters dari analisis astrofisikawan Jonathan McDowell menunjukkan porsi Starlink dalam misi Falcon 9 melonjak dari 54 persen pada 2020 menjadi sekitar 79 persen sepanjang 2026. Kondisi ini diperparah dengan kabar bahwa setidaknya tujuh perusahaan satelit telah diberitahu bahwa Falcon 9 telah penuh terpesan hingga 2028 atau 2029. Delapan sumber mengungkapkan bahwa bottleneck ini dipicu oleh rencana SpaceX untuk beralih ke roket Starship yang lebih murah dan dapat digunakan ulang sepenuhnya.
Fenomena ini bukan sekadar soal jadwal, melainkan cermin dari perhitungan ekonomi yang matang. Analis memperkirakan, satu misi Starlink dengan Starship mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta dolar lebih besar dibandingkan meluncurkan muatan komersial pelanggan. Starlink sendiri telah menjadi mesin uang SpaceX, menyumbang 60 persen dari total pendapatan perusahaan tahun lalu. Dengan lebih dari 10.000 satelit yang telah ditempatkan di orbit, Starlink membukukan pendapatan $11,4 miliar pada 2025, sementara bisnis peluncuran dan antariksa SpaceX hanya meraih $4,1 miliar.
"SpaceX memiliki sumber daya langka, yaitu kapasitas peluncuran mereka sendiri," ujar Akhil Rao, kepala ekonom di firma riset Rational Futures dan mantan pegawai NASA. "Jika mereka menggunakan kapasitas itu untuk pelanggan eksternal, mereka kehilangan potensi keuntungan yang bisa diperoleh dari satelit internal." Pernyataan ini menegaskan bahwa SpaceX lebih memilih mengorbitkan asetnya sendiri daripada melayani pihak ketiga.
Konsekuensinya, lebih dari 500 perusahaan di AS yang membangun wahana antariksa atau mengoperasikan satelit kini menghadapi ketidakpastian besar. Investasi senilai $50 miliar sejak 2000 terancam sia-sia jika akses ke roket semakin mahal dan langka. Phil Smith, analis senior BryceTech, menyebutkan bahwa permintaan peluncuran di AS sangat bergantung pada ketersediaan roket, dan ketika SpaceX memprioritaskan kepentingannya sendiri, ekosistem antariksa komersial bisa tercekik.
Kondisi ini diperparah oleh kegagalan pesaing. Blue Origin's New Glenn meledak di landasan pada Mei lalu dan diprediksi baru bisa terbang lagi tahun depan. United Launch Alliance (ULA) juga masih menahan roket Vulcan sejak Februari akibat masalah booster. Sementara itu, Rocket Lab yang berada di posisi kedua dalam frekuensi peluncuran tengah mengembangkan roket Neutron yang dapat digunakan ulang, dan berencana mengakuisisi Iridium senilai $8 miliar. CEO Iridium, Matt Desch, mengakui bahwa tanpa dukungan Rocket Lab, perusahaannya harus merogoh kocek miliaran dolar untuk meluncurkan satelit generasi baru.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa pesan penting. Negara yang tengah giat mengembangkan ekosistem antariksa, termasuk melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perusahaan rintisan seperti PT Pasifik Satelit Nusantara, harus mewaspadai risiko ketergantungan pada segelintir penyedia layanan peluncuran. Keterbatasan akses roket dapat menghambat rencana peluncuran satelit untuk telekomunikasi, observasi bumi, atau navigasi. Diversifikasi mitra peluncuran, termasuk menjajaki kerja sama dengan badan antariksa lain atau pengembangan roket dalam negeri, menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan serius.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SpaceX akan membuka akses Starship untuk komersial secara luas. Dalam prospektus IPO-nya, perusahaan itu secara eksplisit menyatakan "dapat memprioritaskan muatan peluncuran kami sendiri daripada kontrak pemerintah AS tambahan atau pelanggan pihak ketiga." Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin industri antariksa global akan terbagi menjadi dua kasta: mereka yang memiliki roket dan mereka yang hanya bisa menumpang. Pertanyaannya, akankah ada pemain baru yang mampu menantang dominasi ini, atau akankah antariksa menjadi milik segelintir korporasi?



