Tiga WNI Ditangkap di Thailand Bawa Sabu 87 Kg: Upah Rp 8.000 per Orang
Baca dalam 60 detik
- Tiga pria Malaysia ditangkap di Stasiun Hat Yai, Thailand, karena membawa 87 kg sabu dalam koper dan ransel.
- Mereka dijanjikan upah RM8.000 (sekitar Rp 27 juta) per orang oleh sindikat untuk menyelundupkan narkoba ke Malaysia.
- Penangkapan ini mengungkap jaringan narkoba lintas batas yang melibatkan warga negara asing, memicu kekhawatiran akan jalur penyelundupan melalui perbatasan darat.

Tiga pria berkewarganegaraan Malaysia diringkus aparat gabungan Thailand di Stasiun Kereta Api Hat Yai, Songkhla, pada 31 Juli lalu. Mereka kedapatan membawa 87 kilogram sabu atau metamfetamin kristal yang disembunyikan dalam tiga koper beroda dan tiga ransel. Penangkapan ini menjadi pukulan telak bagi jaringan narkoba lintas batas yang selama ini memanfaatkan jalur kereta api sebagai modus penyelundupan.
Direktur Kantor Pengawasan Narkoba (ONCB) Wilayah 9 Thailand, Ratchapon Palakul, mengungkapkan bahwa operasi ini melibatkan unit khusus "Tawan Hat Yai" yang berkolaborasi dengan polisi kereta api, Divisi Penindakan Kejahatan (CSD), Divisi Anti-Perdagangan Orang (ATPD), polisi wisata, Biro Penindakan Narkoba (NSB), serta ONCB Wilayah 9. Para tersangka yang baru turun dari kereta dari Bangkok langsung digiring petugas yang telah menunggu di stasiun.
Dari hasil pemeriksaan awal, salah satu tersangka mengaku dijanjikan upah sebesar RM8.000 (sekitar Rp 27 juta) per orang oleh sindikat untuk membawa sabu tersebut ke Malaysia. Pengakuan ini membuka tabir praktik perekrutan kurir narkoba yang kerap menjadikan warga biasa sebagai "kuli" dengan imbalan yang menggiurkan, namun berisiko tinggi.
Ketiga tersangka kini dijerat dengan pasal kepemilikan dan peredaran narkoba kategori 1 untuk tujuan distribusi. Jika terbukti bersalah, mereka menghadapi hukuman penjara hingga 15 tahun dan denda maksimal 1,5 juta baht (sekitar Rp 700 juta). Proses hukum ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang tergiur menjadi kurir narkoba internasional.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi alarm akan potensi jalur penyelundupan serupa di perbatasan darat, seperti di Kalimantan atau Sumatra. Modus kereta api yang digunakan para tersangka menunjukkan bahwa sindikat terus berinovasi mencari celah keamanan. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama di jalur-jalur yang menghubungkan Thailand-Malaysia-Indonesia.
Kasus ini juga menyoroti lemahnya pengawasan di stasiun kereta api, yang selama ini lebih fokus pada keamanan penumpang daripada deteksi barang bawaan. Pihak berwenang Thailand kini mempercepat penyelidikan untuk memburu dalang dan jaringan di balik penyelundupan ini. Pertanyaannya, apakah modus serupa sudah merambah ke jalur lain, seperti laut atau udara? Yang jelas, perang melawan narkoba membutuhkan kerja sama lintas negara yang lebih erat.



