Kisah di Balik Lagu 'Place Your Hands': Pelukan untuk Duka Sang Kakek
Baca dalam 60 detik
- Bassis Reef, Jack Bessant, mengaku baru memahami makna lagu 'Place Your Hands' setelah vokalis Gary Stringer menjelaskan bahwa lagu itu adalah metafora untuk meminta pelukan.
- Lagu yang sering disalahdengarkan sebagai 'Put Your Hands Up' itu ternyata lahir dari duka mendalam Gary atas kematian kakeknya, Kenneth.
- Pengakuan ini membuka diskusi tentang maskulinitas di era 90-an dan bagaimana musik menjadi medium untuk mengekspresikan emosi yang sulit diucapkan.

Lagu 'Place Your Hands' yang melambungkan nama band rock asal Inggris, Reef, ternyata menyimpan kisah duka yang tak pernah terungkap selama bertahun-tahun. Sang bassis, Jack Bessant, baru-baru ini mengaku bahwa ia baru memahami makna sebenarnya dari lagu tersebut setelah vokalis Gary Stringer menjelaskannya dalam sebuah wawancara dengan The Guardian. Lagu yang kerap disalahartikan sebagai ajakan mengangkat tangan ini, rupanya adalah permohonan akan sebuah pelukan hangat di tengah kehilangan.
Dalam wawancara tersebut, Jack mengungkapkan bahwa selama ini ia selalu terkesan dengan emosi yang dibawakan Gary, tetapi tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang ia nyanyikan. "Saya selalu berpikir emosi yang dibawa Gaz itu luar biasa, tapi saya tidak sepenuhnya memahami apa yang dia nyanyikan sampai baru-baru ini," ujarnya. Gary kemudian menjelaskan bahwa 'put your hands on' adalah metafora untuk keinginan mendapatkan pelukan, sebagai cara untuk melewati duka atas kehilangan kakeknya.
Pengakuan ini membuka tabir tentang proses kreatif di balik salah satu lagu paling ikonik dari era Britpop. Jack, yang saat itu masih muda dan penuh semangat, mengaku tidak sempat merenungkan makna lirik karena terbawa suasana. "Kami adalah rocker muda, terbawa momen dan penuh testosteron, tanpa waktu untuk memikirkan apa pun," kenangnya. Ia juga menyoroti bahwa era 90-an bukanlah masa yang mendorong pria untuk peka terhadap perasaan. "Ada majalah-majalah laki-laki, dan kami memainkan permainan itu sampai batas tertentu. Kami tentu tidak membicarakan perasaan kami seperti sekarang. Melihat ke belakang, saya pikir liriknya indah," tambahnya.
Gary sendiri, dalam kesempatan yang sama, menceritakan kisah di balik lagu tersebut. Liriknya ditulis sebagai respons atas kematian kakeknya, Kenneth. "Saya sedang berada di bus tur ketika mendapat telepon bahwa dia meninggal. Saya pergi ke kamar mayat dan bibi saya bertanya, 'Apakah kamu ingin melihat Ken?'," ceritanya. Pengalaman melihat jenazah kakeknya itu berbeda dengan pengalaman pertamanya melihat mayat di pinggir jalan saat berselancar di Maroko. "Liriknya pada dasarnya meminta kenyamanan โ untuk pelukan. Itulah mengapa 'Put your hands on'. Tapi saya yakin jika itu 'Put your hands up', lagu itu akan lebih besar lagi," ujarnya.
Kisah ini tidak hanya mengungkap makna tersembunyi dari sebuah lagu, tetapi juga menyoroti perubahan cara pandang terhadap maskulinitas dan ekspresi emosi. Di Indonesia, di mana budaya patriarki masih kental, lagu seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa pria pun berhak merasakan dan mengungkapkan kesedihan. Musik, dalam hal ini, menjadi medium yang aman untuk menyampaikan pesan-pesan yang mungkin sulit diucapkan secara langsung.
Meski makna lagu ini baru terungkap, Reef tetap setia membawakan 'Place Your Hands' dalam setiap penampilan mereka. Jack menegaskan bahwa bandnya tidak akan pernah bosan memainkan lagu tersebut karena "sangat funky dan penuh ritme dan semangat". Lagu ini juga menjadi perekat bagi para personel yang sempat beberapa kali berganti formasi. "Kami telah mengalami beberapa kali pergantian personel, dan 'Place Your Hands' adalah lagu yang selalu menyatukan kami. Lagu ini membuat orang menari dan mengangkat tangan โ meskipun liriknya sebenarnya 'Put your hands on'," katanya.
Pengakuan jujur dari para personel Reef ini membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang bagaimana musik dapat menjadi sarana terapi dan ekspresi emosi. Di tengah tren kesehatan mental yang semakin mendapat perhatian, kisah ini relevan untuk direnungkan. Mungkin, banyak lagu lain yang juga menyimpan makna mendalam yang belum kita pahami. Pertanyaannya, apakah kita sudah cukup peka untuk mendengarkan dan meresapi pesan yang ingin disampaikan para musisi?



