Travis Barker: Film Dokumenter Hampir Batal karena Trauma Kecelakaan Pesawat
Baca dalam 60 detik
- Dokumenter 'Louder Than Fear' hampir tidak dirilis karena Travis Barker menolak adegan naik pesawat yang menjadi klimaks cerita.
- Setelah menjalani terapi dan menikah dengan Kourtney Kardashian, Barker akhirnya mampu menghadapi ketakutannya dan menyelesaikan film.
- Kisah Barker menjadi contoh nyata bagaimana trauma dapat diatasi dengan dukungan orang terdekat dan proses penyembuhan yang panjang.

Travis Barker, drummer Blink-182 yang dikenal dengan gaya bermain energik, hampir menggagalkan perilisan film dokumenter tentang hidupnya sendiri. 'Travis Barker: Louder Than Fear' nyaris berakhir di rak karena sang musisi menolak adegan klimaks yang mengharuskannya naik pesawatโsesuatu yang sangat ia takuti sejak kecelakaan tahun 2008.
Dalam wawancara dengan People, Barker mengaku bahwa proyek tersebut sempat mati suri. "Pada satu titik, film ini tidak akan keluar. Tidak ada akhir yang jelas, dan akhir impian saya adalah berjalan di dekat pesawat, yang sangat saya tolak. Saya benar-benar menentang terbang lagi," ujarnya. Ia bahkan mengatakan kepada manajernya bahwa dokumenter itu baru akan dirilis setelah ia meninggal.
Kecelakaan pesawat pada 2008 yang menewaskan empat orang meninggalkan luka mendalam bagi Barker. Ia mengalami luka bakar parah dan trauma psikologis yang membuatnya enggan menaiki pesawat selama bertahun-tahun. Ketakutan itu, menurut Barker, justru menjadi kekuatan yang mengendalikan hidupnya. "Saya tahu bahwa tidak terbang memiliki kekuatan atas saya," tambahnya.
Proses penyembuhan memakan waktu bertahun-tahun. Barker menjalani terapi dan perlahan-lahan mulai menghadapi ketakutannya. Titik balik terjadi ketika ia jatuh cinta dengan Kourtney Kardashian, yang dinikahinya pada 2022. "Saya tahu di dalam hati, akhir dari dokumenter ini adalah saya naik pesawat lagi dan menghadapi ketakutan saya, yang saya pikir tidak mungkin terjadi. Tapi bertahun-tahun kemudian, saya jatuh cinta dengan salah satu sahabat saya dan hal-hal luar biasa terjadi. Siapa yang tahu?" katanya.
Hubungan dengan Kourtney, menurut Barker, memberinya perspektif baru tentang kehidupan. Dalam wawancara dengan The Drew Barrymore Show, ia mengungkapkan bahwa Kourtney, sebagai seorang ibu, memahami kesibukannya sebagai musisi. "Saya dulu berkencan dengan perempuan yang tidak memiliki anak dan mereka sulit memahami mengapa saya tidak bisa makan malam setiap malam. Sekarang saya bersama seseorang yang hebat sebagai ibu dan teman. Semua berjalan alami," jelasnya.
Bagi penggemar di Indonesia, kisah Barker menjadi pengingat bahwa trauma bukanlah akhir dari segalanya. Di tengah maraknya isu kesehatan mental, perjalanan Barker menunjukkan pentingnya dukungan sosial dan terapi. Banyak selebritas Tanah Air yang juga berbagi pengalaman serupa, seperti musisi yang mengalami kecelakaan atau kehilangan. Dokumenter ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang bergulat dengan ketakutan mendalam.
Ke depan, 'Louder Than Fear' dijadwalkan rilis di platform streaming pada tahun ini. Pertanyaan yang tersisa: apakah film ini akan menginspirasi lebih banyak orang untuk menghadapi ketakutan terbesar mereka, atau justru menjadi pengingat bahwa penyembuhan membutuhkan waktu dan cinta?



