Gibran: AI Bukan Lagi Masa Depan, Generasi Muda Harus Jadi Penguasa Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong generasi muda Indonesia menguasai AI sebagai alat produktivitas, bukan pengganti kemampuan berpikir.
- Pemerintah telah menyelesaikan asesmen kesiapan AI UNESCO, menandai langkah konkret tata kelola etika teknologi di Indonesia.
- Gibran menekankan peran guru dan orang tua dalam mendampingi anak, serta pentingnya etika agar AI tidak disalahgunakan untuk hoaks atau plagiarisme.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260845/original/013183500_1781665170-Wapres_Gibran.jpg)
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan realitas hari ini yang harus dikuasai generasi muda Indonesia. Dalam ajakan yang disampaikan melalui kanal YouTube Sekretariat Wakil Presiden, Rabu (17/6/2026), ia mendorong para pelajar untuk menjadi pemain aktif dalam revolusi digital, bukan sekadar penonton.
Gibran menggarisbawahi bahwa AI dapat berfungsi sebagai asisten pribadi dalam proses belajar, mulai dari mencari informasi, mempelajari bahasa asing, hingga memahami konsep rumit dengan cara yang lebih sederhana. Namun, ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi tidak boleh mengikis kemampuan berpikir kritis. "AI harus dimanfaatkan untuk mendorong kreativitas dan produktivitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah percepatan adopsi AI di Indonesia, yang menurut Gibran membuka peluang besar bagi talenta lokal. Ia menyebut sifat open source dari banyak teknologi AI sebagai "kesempatan emas" yang dapat mempercepat visi Indonesia Emas 2045. Pemerintah, kata Gibran, telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) AI yang disusun UNESCO, sebuah instrumen untuk menilai kesiapan tata kelola AI sesuai pedoman etika global.
Gibran juga menyoroti peran guru dan orang tua dalam ekosistem AI. Ia meminta para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi agar dapat memanfaatkan AI untuk tugas administratif, penyusunan soal, dan penyederhanaan materi. "Dengan demikian, guru dapat memiliki lebih banyak waktu untuk pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan," katanya. Sementara kepada orang tua, ia mengingatkan pentingnya pendampingan agar anak tidak "terbang tinggi" tanpa pengawasan.
Aspek etika menjadi perhatian utama dalam pidato Gibran. Ia memperingatkan bahwa teknologi tanpa etika dapat memicu hoaks, plagiarisme, dan pelanggaran privasi. "Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas kita sebagai bangsa yang beradab," tegasnya. Hal ini relevan bagi Indonesia, di mana penetrasi internet dan penggunaan media sosial sangat tinggi, namun literasi digital masih timpang.
Bagi investor dan profesional di Indonesia, pernyataan Gibran menegaskan arah kebijakan pemerintah yang pro-inovasi namun tetap mengedepankan regulasi etis. Inisiatif RAM AI UNESCO menjadi sinyal bahwa Indonesia serius membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab. Pertanyaan selanjutnya: sejauh mana kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk mengejar target Indonesia Emas 2045 di tengah persaingan global yang semakin ketat?



