Markus Krösche: Arsitek di Balik Transfer Mahal yang Siap Membangun AC Milan
Baca dalam 60 detik
- Markus Krösche dikabarkan telah menyetujui tawaran menjadi direktur teknis AC Milan, membawa rekam jejak transfer bernilai tinggi.
- Mantan gelandang SC Paderborn ini sukses mendatangkan pemain seperti Dani Olmo, Josko Gvardiol, dan Randal Kolo Muani yang dijual dengan keuntungan besar.
- Jika bergabung, Krösche diharapkan mereplikasi strategi pembelian pemain muda potensial dan penjualan bernilai tinggi di Serie A.

AC Milan bergerak cepat mencari pengganti direktur teknis yang baru, setelah Markus Krösche dikabarkan menyetujui tawaran untuk mengisi posisi tersebut. Nama Krösche memang tidak setenar pelatih top Eropa, namun jejaknya dalam membangun skuad kompetitif di Jerman patut diperhitungkan. Pria berusia 45 tahun ini dikenal sebagai eksekutif yang mampu mengubah klub melalui strategi transfer cerdas dan penjualan pemain dengan margin keuntungan tinggi.
Krösche memulai karier sebagai gelandang bertahan di Werder Bremen sebelum menghabiskan sebagian besar masa bermainnya di SC Paderborn. Ia mencatatkan 356 penampilan liga, menjadikannya pemegang rekor penampilan terbanyak sepanjang sejarah klub. Setelah pensiun pada 2014, ia sempat menangani tim cadangan Paderborn dan menjadi asisten pelatih Roger Schmidt di Bayer Leverkusen. Ketika Schmidt dipecat pada 2017, Krösche kembali ke Paderborn sebagai direktur utama dan membawa klub promosi beruntun dari kasta ketiga ke Bundesliga—prestasi yang hanya terjadi dua kali dalam sejarah klub.
Kesuksesan itu membawanya ke RB Leipzig sebagai direktur olahraga pada 2019. Selama dua musim di Leipzig, ia mulai menunjukkan keahliannya dalam merekrut pemain muda berbakat. Sejak 2021, ia menjabat sebagai anggota dewan bidang olahraga di Eintracht Frankfurt dengan kontrak hingga 2028. Di Frankfurt, Krösche semakin memoles reputasinya dengan mendatangkan pemain-pemain yang kemudian dijual dengan harga selangit.
Daftar transfer Krösche menunjukkan pola yang jelas: membeli pemain muda dengan harga wajar, mengembangkan potensinya, lalu menjual dengan keuntungan besar. Contoh paling mencolok adalah Randal Kolo Muani yang didatangkan gratis dari Nantes dan dilego ke PSG sebesar €95 juta. Begitu pula Josko Gvardiol yang dibeli €36 juta dari Dinamo Zagreb dan dijual ke Manchester City dengan nilai €90 juta. Strategi ini tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga membangun daya saing tim di kompetisi domestik dan Eropa.
Bagi AC Milan, kedatangan Krösche bisa menjadi angin segar. Klub yang berbasis di San Siro ini tengah berupaya memperkuat skuad tanpa melanggar aturan Financial Fair Play. Dengan pengalaman Krösche di RB Leipzig dan Frankfurt, ia diyakini mampu mengidentifikasi talenta muda yang terjangkau serta menjual pemain dengan harga optimal. Namun, tantangan terbesar adalah beradaptasi dengan dinamika Serie A yang berbeda dengan Bundesliga, terutama dalam hal negosiasi dan regulasi transfer.
Dalam konteks Indonesia, langkah AC Milan merekrut Krösche patut dicermati oleh para penggemar sepak bola Tanah Air. Jika sukses, strategi ini bisa menjadi model bagi klub-klub Indonesia yang ingin membangun tim kompetitif dengan sumber daya terbatas. Apakah Krösche akan mampu mengulang kesuksesannya di Italia? Atau justru gagal beradaptasi dengan kultur sepak bola yang berbeda? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bursa transfer ke depan.



