Deklarasi Islamabad Picu Lonjakan Bitcoin, Sentimen Risiko Menguat Global
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin melesat 2,06% ke $65.646 setelah AS dan Iran menandatangani Deklarasi Islamabad yang meredakan ketegangan geopolitik.
- Penurunan harga minyak Brent lebih dari $12 per barel memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, mendorong investor beralih ke aset berisiko.
- Likuidasi posisi short senilai $116,93 juta dalam 24 jam memperkuat momentum bullish, dengan level support kunci di $64.780.

Lonjakan harga Bitcoin menembus $65.000 pada Jumat (14/6) setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani Deklarasi Islamabad, mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan geopolitik ini langsung memicu reli aset berisiko di seluruh pasar, dengan Bitcoin memimpin kenaikan sebesar 2,06% ke $65.646,31.
Deklarasi yang diteken kedua negara tersebut menjadi katalis utama perubahan sentimen makro. Harga minyak Brent langsung ambles lebih dari 3%—turun lebih dari $12 per barel—mengempiskan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya membebani pasar. Penurunan harga energi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mengambil sikap dovish pada pertemuan 16-17 Juni mendatang.
“Reli Bitcoin kali ini bukan sekadar spekulasi, melainkan pergeseran narasi makro yang fundamental,” ujar analis pasar keuangan dari LyndHub. “Ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga naik, aset seperti Bitcoin cenderung diuntungkan karena likuiditas global diperkirakan bertambah.”
Pergerakan harga yang agresif juga diperkuat oleh aksi likuidasi besar-besaran. Data menunjukkan lebih dari $116,93 juta posisi short terjebak dalam waktu 24 jam, menciptakan efek umpan balik yang mendorong harga semakin tinggi. Para pedagang yang bertaruh pada pelemahan Bitcoin terpaksa membeli kembali aset mereka, menambah tekanan beli di pasar.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini memberikan angin segar di tengah ketidakpastian global. Pasar kripto domestik kerap bergerak seirama dengan sentimen global, dan penurunan tensi geopolitik Timur Tengah berpotensi mendorong aliran modal ke aset digital. Namun, volatilitas tetap tinggi—pasar masih menanti hasil pertemuan The Fed pekan depan yang bisa mengonfirmasi atau membalikkan narasi dovish saat ini.
Secara teknikal, Bitcoin kini menguji level resistensi di $65.927, titik tertinggi sebelumnya. Jika mampu bertahan di atas $64.780, momentum bullish berpeluang berlanjut menuju level psikologis $70.000. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support tersebut bisa memicu koreksi singkat. Pertanyaannya, apakah reli ini cukup kuat untuk bertahan hingga akhir Juni atau hanya sekadar euforia sementara?



