Kisah The Kinks Bertemu John Wayne Gacy: Promotor yang Ramah, Pembunuh Berantai
Baca dalam 60 detik
- Gitaris The Kinks, Dave Davies, mengaku pernah bertemu John Wayne Gacy pada 1965 dan menganggapnya pribadi yang ramah.
- Pertemuan terjadi saat Gacy menjadi promotor konser The Kinks di Illinois, jauh sebelum ia melakukan pembunuhan berantai pada 1972-1978.
- Mantan bassis The Kinks, Pete Quaife, juga menceritakan pengalaman mencekam bersama Gacy yang sempat mengundang mereka ke rumahnya.

Gitaris legendaris The Kinks, Dave Davies, mengungkap pengalaman tak lazimnya bertemu dengan John Wayne Gacy, pembunuh berantai yang kemudian dikenal sebagai "Killer Clown". Dalam wawancara di podcast The Magnificent Others yang dipandu vokalis The Smashing Pumpkins, Billy Corgan, Davies menyebut Gacy sebagai pribadi yang sangat ramah—sebuah ironi mengingat pria itu kelak dihukum mati atas pembunuhan 33 remaja dan pria muda.
Pertemuan itu terjadi pada 1965, saat The Kinks tengah menjalani tur Amerika Serikat. Gacy, yang saat itu berusia 23 tahun dan belum menunjukkan kecenderungan kriminalnya, bertindak sebagai promotor lokal yang mengatur penampilan band di Illinois State Armoury, Springfield. Davies mengaku sempat diundang ke pesta yang digelar Gacy usai konser, namun ia tidak mengetahui identitas asli tuan rumah. "Dia begitu baik, saya hampir tidak percaya," ujar Davies dalam podcast tersebut.
Pengakuan ini muncul saat Corgan, yang tumbuh besar di Chicago—kota tempat Gacy beraksi—menyinggung soal ketakutan Davies terhadap badut. Davies mengaku fobia badut menjadi inspirasi lagu "Death of a Clown" (1967). "Saya selalu takut pada badut dan khawatir suatu hari akan menulis lagu tentang mereka. Mereka mengerikan dan menakutkan," kata Davies. Ironisnya, Gacy kerap tampil sebagai badut di acara amal sebelum identitas aslinya terbongkar.
Kisah ini bukan pertama kali terungkap. Pada 2000, mendiang bassis The Kinks, Pete Quaife, menceritakan pengalaman serupa kepada majalah Mojo. Quaife menggambarkan Gacy sebagai "greaseball" yang sopan namun mencurigakan. Setelah konser, Gacy mengundang band ke rumahnya yang berbau anyir tidak sedap. Mereka bertahan hingga pukul tiga pagi, namun memutuskan pergi saat Gacy mendesak agar beberapa anggota tetap tinggal. "Kami mulai curiga dengan pria ini, jadi kami cabut ke hotel. Itu terakhir kali kami melihatnya," kenang Quaife, yang bersyukur tidak berakhir sebagai "koleksi" di dinding rumah Gacy.
Bagi pembaca Indonesia, kisau ini mengingatkan bahwa sosok berbahaya kerap menyamar di balik citra ramah dan normal. Kasus Gacy juga menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap figur publik yang memiliki akses ke komunitas rentan. Di Indonesia, fenomena serupa pernah terjadi dengan modus promotor atau pengurus acara yang menyalahgunakan kepercayaan.
Gacy akhirnya dieksekusi mati pada Mei 1994. Namun, kenangan para personel The Kinks tentang pertemuan singkat dengan pria yang kelak menjadi salah satu pembunuh berantai paling terkenal di Amerika itu tetap membekas. Pertanyaan yang tersisa: seberapa banyak dari kita yang pernah bertemu dengan monster tanpa menyadarinya?



