Andreeva Taklukkan Final Roland Garros: Mimpi Remaja yang Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Mirra Andreeva, 19 tahun, menjadi juara termuda Roland Garros sejak Monica Seles 1992, mengalahkan petenis kualifikasi Maja Chwalinska.
- Kemenangan ini menandai puncak perjalanan Andreeva dari sensasi remaja menjadi juara Grand Slam, setelah dua gelar WTA 1000 di tahun 2025.
- Chwalinska, yang memulai turnamen dengan odds 500-1, tetap menuai sukses besar: hadiah €1,4 juta dan lonjakan peringkat ke posisi 21 dunia.

Mirra Andreeva akhirnya menggenapi prediksi sebagai bakat terbesar tenis wanita dengan merebut gelar Grand Slam pertamanya di Roland Garros. Petenis Rusia berusia 19 tahun itu menaklukkan Maja Chwalinska, pemain kualifikasi asal Polandia, dengan skor 6-3, 6-2 dalam waktu 1 jam 22 menit, Minggu dini hari WIB.
Kemenangan ini menempatkan Andreeva sebagai juara termuda di Paris sejak Monica Seles pada 1992, sekaligus remaja pertama yang memenangi nomor tunggal putri Prancis Terbuka setelah Iga Swiatek pada 2020. Dengan ranking delapan dunia, Andreeva tampil sebagai unggulan kedelapan dan tidak memberi kesempatan bagi Chwalinska yang menjadi underdog dengan odds 500-1 sebelum turnamen.
Final sempat dimulai dengan ketegangan: empat break servis berturut-turut akibat angin kencang dan debut gugup. Chwalinska, yang didukung ribuan suporter Polandia di tribun, justru unggul lebih dulu. Namun Andreeva segera menemukan ritme, memenangi sembilan game beruntun untuk memimpin 6-3, 5-0. Meski sempat gagal menyegel kemenangan saat servis, ia akhirnya memastikan gelar dengan backhand winner di match point pertama.
Perjalanan Andreeva menuju puncak tidak instan. Sejak menembus WTA Tour di Madrid Open 2023, ia mendapat pujian dari Andy Murray karena keberaniannya. Namun tekanan ekspektasi sempat menghambat. Kini, di bawah bimbingan Conchita Martinez—mantan juara Wimbledon 1994—Andreeva menunjukkan kedewasaan luar biasa. Ia berhasil melewati semifinal kontroversial melawan Marta Kostyuk dari Ukraina yang diwarnai ketegangan politik, serta final yang penuh tekanan.
Bagi Chwalinska, meski kalah, turnamen ini tetap menjadi titik balik. Petenis 24 tahun itu hanya pernah lolos kualifikasi Grand Slam dua kali dari 14 percobaan sebelumnya. Namun di Paris, ia memenangi sembilan pertandingan berturut-turut, termasuk tiga babak kualifikasi. Hadiah €1,4 juta yang ia terima tiga kali lipat dari total pendapatan kariernya. Peringkatnya pun melonjak ke posisi 21 dunia, membuka peluang wildcard untuk Wimbledon.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kemenangan Andreeva menegaskan dominasi generasi muda di tenis putri. Meski belum ada wakil Indonesia di level Grand Slam, prestasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air untuk menembus turnamen besar. Selain itu, keberhasilan Chwalinska sebagai pemain kualifikasi menunjukkan bahwa jalan menuju puncak masih terbuka lebar, meski harus melalui perjuangan finansial dan mental yang berat.
Dengan gelar ini, Andreeva diprediksi akan terus bersaing di papan atas, terutama di Wimbledon yang akan datang. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan konsistensi seperti Swiatek, atau akankah muncul kejutan lain dari pemain kualifikasi seperti Chwalinska? Satu hal pasti: tenis putri semakin tidak terduga.



