Paramount Resmi Masuk Industri Gim: TMNT: The Last Ronin Jadi Proyek Perdana
Baca dalam 60 detik
- Paramount menggabungkan Skydance Interactive dan Skydance New Media menjadi Paramount Games Studio untuk fokus pada gim AAA.
- Gim pertama studio anyar ini adalah Teenage Mutant Ninja Turtles: The Last Ronin yang dikembangkan PlatinumGames, diumumkan jelang Summer Game Fest.
- Langkah ini menandai ekspansi besar Paramount ke sektor gim, bersaing dengan raksasa hiburan lain yang telah lebih dulu menggarap game.

Paramount resmi mengumumkan pembentukan studio gim internal bernama Paramount Games Studio, hanya beberapa jam sebelum gelaran Summer Game Fest 2026. Langkah ini menandai babak baru bagi raksasa hiburan asal Amerika Serikat itu untuk serius merambah industri gim kelas atas (AAA).
Studio baru ini merupakan hasil penggabungan dua tim pengembang yang sebelumnya berada di bawah naungan Skydance Media, yaitu Skydance Interactive dan Skydance New Media. Dengan penyatuan ini, Paramount ingin memiliki kendali penuh atas produksi gim berdasarkan properti intelektualnya yang masif, termasuk waralaba Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT).
Proyek perdana yang diusung Paramount Games Studio adalah Teenage Mutant Ninja Turtles: The Last Ronin, sebuah gim yang dikembangkan oleh PlatinumGames—studio Jepang terkenal di balik Bayonetta dan Nier: Automata. Gim ini dijadwalkan rilis untuk PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S.
Keputusan Paramount membentuk studio gim sendiri bukanlah tanpa alasan. Persaingan di industri hiburan global semakin ketat, dengan Disney, Warner Bros., dan Netflix telah lebih dulu memiliki divisi gim internal. Dengan menguasai langsung proses produksi, Paramount dapat mengoptimalkan potensi lisensinya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pihak ketiga.
Bagi penggemar TMNT, The Last Ronin menjanjikan cerita yang lebih kelam dan dewasa. Komik aslinya mengisahkan satu-satunya kura-kura yang selamat setelah seluruh keluarganya tewas, berjuang sendirian di masa depan yang suram. PlatinumGames diharapkan mampu menerjemahkan nuansa itu ke dalam mekanisme pertarungan yang intens dan narasi emosional.
Di Indonesia, fenomena TMNT juga memiliki basis penggemar setia, terutama dari generasi 1990-an yang tumbuh dengan serial animasi dan film. Kehadiran gim ini di platform konsol terkini membuka peluang bagi pasar gim Tanah Air yang terus tumbuh, meski tantangan harga dan distribusi masih menjadi kendala. Namun, dengan dukungan komunitas yang kuat, bukan tidak mungkin The Last Ronin menjadi salah satu gim yang dinantikan di tahun mendatang.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Paramount Games Studio mampu bersaing dengan jajaran gim AAA dari publisher mapan seperti Sony, Microsoft, atau Electronic Arts? Ataukah langkah ini hanya menjadi proyek ambisius yang tenggelam di tengah hiruk-pikuk Summer Game Fest? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti—industri gim semakin menarik dengan masuknya pemain baru sekelas Paramount.



