Phoebe Tonkin: Serial Baru Angkat Romansa Kompleks di Usia 30-an
Baca dalam 60 detik
- Serial 'Two Years Later' garapan Paramount Plus mengeksplorasi hubungan asmara yang terputus pandemi dan dipertemukan kembali takdir.
- Phoebe Tonkin menyebut serial ini berhasil menggambarkan kerumitan menjalin hubungan dengan beban masa lalu, terutama di usia 30-an.
- Pertanyaan apakah cinta sejati bisa bertahan tanpa pandemi menjadi benang merah yang diangkat para pemeran.

Serial terbaru Paramount Plus, Two Years Later, menghadirkan kisah cinta yang tak biasa: sepasang kekasih yang perjalanan asmaranya terputus oleh pandemi Covid-19, lalu dipertemukan kembali oleh takdir beberapa tahun kemudian. Dibintangi Phoebe Tonkin dan Brenton Thwaites, serial ini tidak sekadar romansa biasa, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana usia dan pengalaman membentuk cara seseorang menjalin hubungan.
Dalam wawancara dengan The Au Review, Tonkin mengungkapkan bahwa serial ini berhasil menangkap “kompleksitas menjalin hubungan” di usia 30-an. Menurutnya, pada usia tersebut setiap orang sudah memiliki beban hidup masing-masing. “Kamu sudah menjalani hidup. Terutama saat berada di usia 30-an, ketika bertemu seseorang, kamu membawa semua itu dan belajar mencintai diri sendiri serta orang yang kamu cintai secara bersamaan,” ujarnya.
Serial ini mengikuti Emily (Tonkin) dan Josh (Thwaites) yang menjalani serangkaian kencan dua tahun setelah pertemuan pertama mereka yang kandas akibat pandemi. Mereka mencoba menentukan apakah hubungan mereka memang ditakdirkan. Tonkin mengaku tidak yakin apakah kedua karakter akan tetap bersama jika pandemi tidak pernah terjadi. “Saya pikir serial ini mengeksplorasi apakah ini soal takdir. Saya rasa mungkin mereka akan tetap bersama,” katanya.
Namun, Thwaites memiliki pandangan berbeda. Ia justru mempertanyakan apakah pandemi justru menjadi katalis yang membuat kedua karakter menyadari perasaan mereka. “Mungkin tidak? Mungkin butuh Covid bagi mereka untuk menyadari, 'Aku benar-benar suka orang ini',” ujarnya. Thwaites menambahkan bahwa serial ini bukan hanya soal romansa, tetapi juga tentang menjalin kembali koneksi dengan sesama manusia secara lebih luas.
Salah satu episode yang paling berkesan bagi Tonkin adalah saat Emily kembali ke rumah keluarganya. “Ini episode yang sangat rentan bagi Emily, dan mengungkap banyak hal tentang bagaimana dia menjalani hubungan,” jelasnya. Sementara itu, Thwaites menyebut kencan pertama di episode perdana sebagai momen paling menentukan. “Mereka sudah saling kenal lama, dan dia akhirnya memutuskan untuk benar-benar berkomitmen. Entah itu bodoh atau berani. Melihat dua orang rentan dan terbuka satu sama lain adalah hal yang indah,” katanya.
Bagi penonton Indonesia, serial ini menawarkan cerminan realitas hubungan di era pascapandemi. Banyak pasangan yang harus menghadapi jarak fisik dan emosional akibat pembatasan sosial, lalu harus membangun kembali koneksi ketika situasi membaik. Pertanyaan tentang takdir versus pilihan sadar menjadi relevan di tengah budaya yang masih menjunjung tinggi perjodohan dan campur tangan keluarga. Two Years Later mengajak kita merenung: apakah cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, atau justru krisis yang mempertemukan kita dengan orang yang tepat?



