China Mendominasi Pameran Robot Humanoid Tokyo, Jepang Tertinggal
Baca dalam 60 detik
- Pameran Humanoids Summit Tokyo 2025 didominasi oleh perusahaan robotik asal China yang mampu memproduksi robot humanoid dengan harga lebih murah.
- Jepang yang sebelumnya menjadi pionir justru mengalami 'sindrom Galapagos'—produk inovatif namun gagal menembus pasar global.
- Dominasi China di sektor ini berpotensi menggeser posisi Jepang dan memengaruhi rantai pasok robotik global, termasuk ke Indonesia.

Pameran robot humanoid terbesar di Tokyo, Humanoids Summit, yang berlangsung Kamis (29/5/2025) lalu, menjadi panggung persaingan sengit antara Jepang dan China. Jika sebelumnya Jepang dikenal sebagai kiblat teknologi robot, kali ini sorotan justru tertuju pada deretan perusahaan China yang memamerkan produk dengan harga jauh lebih terjangkau dan siap produksi massal.
Perusahaan seperti Booster Robotics dan LimX Dynamics dari China menyajikan robot yang mampu menari, menggerakkan jari-jari mekanis, hingga membantu pekerjaan kargo di bandara. Padahal, teknologi dasar robot humanoid pertama kali dikembangkan di Jepang dan Amerika Serikat. Namun, China berhasil menyempurnakannya dengan biaya produksi yang lebih rendah—sebuah pola yang sudah terlihat sebelumnya di industri elektronik, ponsel, hingga kendaraan listrik.
Tim Hornyak, penulis buku "Loving the Machine: The Art and Science of Japanese Robots", menyebut fenomena ini sebagai "sindrom Galapagos". Istilah itu merujuk pada produk inovatif Jepang yang berkembang dalam isolasi dan gagal beradaptasi dengan pasar internasional. "Saya berharap Jepang bisa menciptakan versi Ford Model T dari robot humanoid. Tapi saya pikir China sudah mencuri start. Ini sudah agak terlambat," ujarnya.
Salah satu contoh nyata adalah GMO, perusahaan AI dan robotik asal Tokyo yang mengandalkan komponen buatan Unitree, perusahaan China, untuk membuat robot bermata kamera yang akan membantu Japan Airlines mengurus kargo. Langkah ini merupakan upaya mengatasi kekurangan tenaga kerja yang semakin parah di Jepang. Namun, ketergantungan pada teknologi China justru memperkuat dominasi Negeri Tirai Bambu di sektor ini.
Di sisi lain, Jepang masih memiliki keunggulan dalam presisi manufaktur. Honda Motor Co., misalnya, memamerkan tangan robotik bermotor dengan empat jari yang mampu mengencangkan baut kecil dan memasang benang ke jarum. Keisuke Tsuta, asisten kepala insinyur Honda, mengklaim teknologi mereka lebih tahan lama dan bertenaga dibanding produk China. "Kami bisa unggul dalam produksi massal berkualitas tinggi," katanya.
Namun, ancaman dominasi China tampaknya tidak membuat khawatir Profesor Hiroshi Ishiguro dari Universitas Osaka. Ia justru menekankan bahwa budaya Jepang yang ramah terhadap robot adalah nilai tambah. "Yang penting adalah Jepang memiliki budaya yang menerima robot. Jika kita benar-benar ingin menggunakan robot di masyarakat, Jepang adalah tempat yang ideal," ujarnya. Ia menambahkan bahwa masyarakat Jepang tidak mendiskriminasi robot, berbeda dengan negara lain yang mungkin lebih skeptis.
Bagi Indonesia, persaingan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kerap menjadi pasar sasaran produk robotik murah dari China. Jika China berhasil memproduksi robot humanoid dengan harga kompetitif, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan robot-robot tersebut akan merambah pabrik-pabrik dan sektor logistik di Indonesia. Namun, ketergantungan pada teknologi asing juga bisa menghambat pengembangan industri robotik dalam negeri.
Pertanyaan besarnya, akankah Jepang mampu membalikkan keadaan dengan inovasi berkualitas tinggi, atau China akan terus melaju dan menguasai pasar robot humanoid global, termasuk Indonesia?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
