Ferrari EV Perdana Diluncurkan, Saham Justru Ambruk 8%
Baca dalam 60 detik
- Saham Ferrari di Bursa Milan anjlok 8% pada hari peluncuran Luce, EV pertamanya, mencerminkan skeptisisme investor terhadap langkah elektrifikasi pabrikan supercar Italia tersebut.
- Desain Luce yang dinilai terlalu mirip mobil listrik massal dan kehilangan ciri khas Ferrari memicu kritik dari penggemar hingga pejabat Italia, memperburuk sentimen pasar.
- Ferrari membidik konsumen muda kaya di AS dan China untuk Luce yang dibanderol 550.000 euro, namun biaya riset tinggi mengancam margin keuntungan jangka pendek.

Peluncuran kendaraan listrik perdana Ferrari justru direspons dengan aksi jual besar-besaran di bursa saham. Saham pabrikan mobil sport asal Italia itu ambruk sekitar 8% di Bursa Milan pada Selasa (26/5/2026), sehari setelah Ferrari memperkenalkan Luceโmodel EV pertama dalam sejarah perusahaan yang identik dengan mesin V12 yang menderu.
Ferrari memang telah lama mengisyaratkan transisi ke era elektrifikasi, tetapi keputusan untuk meluncurkan Luce di tengah perlambatan permintaan EV global membuat investor gelisah. Porsche dan Lamborghini, misalnya, justru mengerem rencana mobil listrik mereka karena konsumen masih skeptis. Langkah Ferrari dianggap terlalu berani, bahkan nekat.
Luce dibanderol 550.000 euro atau sekitar Rp 11,4 miliar, menjadikannya salah satu mobil listrik termahal di dunia. Dengan konfigurasi lima penumpang dan empat pintu, mobil ini mampu melesat dari 0-60 mph dalam 2,5 detik dan memiliki kecepatan maksimum 192 mph. Namun, yang menjadi sorotan bukan spesifikasi teknis, melainkan desainnya yang dinilai terlalu "umum" dan tidak mencerminkan kegaharan khas Ferrari.
CEO Ferrari Benedetto Vigna membela langkah perusahaan. Menurutnya, teknologi baru harus dihormati dengan pendekatan desain yang berbeda. "Ketika Anda memiliki teknologi baru, Anda perlu memastikan bahwa teknologi tersebut terwakili dengan baik dalam desain, jadi desainnya harus berbeda," ujarnya kepada CNBC International. Vigna juga yakin Luce akan menarik pelanggan setia Ferrari sekaligus membuka segmen pembeli baru, terutama generasi muda kaya di Amerika Serikat dan China.
Namun, analis menilai respons pasar justru menunjukkan kekhawatiran yang lebih dalam. Michael Field, kepala strategi ekuitas Morningstar, mengatakan bahwa penggemar Ferrari kecewa karena EV dianggap mengurangi aura supercar yang dibangun di atas mesin pembakaran internal. Dari sisi investasi, biaya riset dan pengembangan yang sangat besar untuk EV berpotensi menekan margin keuntungan Ferrari. "Banyak tekanan pada merek untuk menutup biaya tersebut, dan berpotensi mengurangi pengembalian investasi bagi bisnis," kata Field.
Kritik pedas bahkan datang dari Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini. Melalui akun media sosialnya, ia menulis, "Mobil listrik, sangat mahal (550 ribu euro!) dan, dari sudut pandang estetika, mobil ini berbicara sendiri. Mobil ini sama sekali tidak terlihat seperti mobil dari Kuda Jingkrak (Ferrari). Dan ini seharusnya disebut 'inovasi'?" Sentimen negatif di media sosial ikut memperburuk persepsi pasar terhadap Luce.
Bagi investor Indonesia, aksi jual saham Ferrari menjadi pengingat bahwa transisi energi di segmen mobil mewah tidak selalu mulus. Meski Ferrari tetap optimistis, pertanyaan besarnya adalah: akankah Luce mampu mempertahankan eksklusivitas Ferrari di era listrik, atau justru menjadi langkah yang menggerus nilai historis merek tersebut? Jawabannya baru akan terlihat saat pengiriman dimulai pada kuartal keempat tahun ini.



