China Geser Jepang dari Peringkat Kedua Kreditor Global, Jerman Kokoh di Puncak
Baca dalam 60 detik
- Jepang turun ke posisi ketiga dalam daftar negara kreditor bersih dunia pada 2025, setelah China berhasil melampaui aset eksternal bersihnya.
- Meskipun aset bersih Jepang mencapai rekor tertinggi 561,75 triliun yen, pertumbuhan China yang lebih agresif dalam investasi luar negeri mengubah peta kekuatan ekonomi global.
- Pergeseran ini menandai era baru di mana Asia Timur kini memiliki dua kekuatan kreditor utama, sementara Amerika Serikat tetap menjadi negara debitur terbesar.

Posisi Jepang sebagai salah satu negara kreditor terbesar dunia kembali merosot. Berdasarkan data terbaru Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Selasa (26/5), Negeri Sakura kini menempati peringkat ketiga dalam daftar negara dengan aset eksternal bersih terbesar, setelah berhasil dilewati oleh China. Meski catatan aset bersih Jepang sendiri mencetak rekor baru, laju pertumbuhan China yang lebih cepat mengubah komposisi peringkat global.
Pada akhir tahun lalu, aset eksternal bersih Jepang—yang merupakan selisih antara total aset yang dimiliki pemerintah, korporasi, dan individu di luar negeri dengan kewajiban terhadap asing—mencatatkan kenaikan 4,4 persen secara tahunan menjadi 561,75 triliun yen (setara sekitar 3,5 triliun dolar AS). Angka ini menjadi yang tertinggi ketujuh secara berturut-turut, didorong oleh peningkatan investasi langsung perusahaan Jepang di luar negeri serta apresiasi nilai kepemilikan saham.
Kendati Jepang masih menikmati surplus aset, pertumbuhan China yang lebih agresif dalam akuisisi aset luar negeri membuatnya melompat ke posisi kedua. Data Dana Moneter Internasional (IMF) yang menjadi acuan menunjukkan China berhasil mengumpulkan aset bersih sebesar 636,34 triliun yen, unggul cukup signifikan dari Jepang. Sementara itu, Jerman tetap kokoh di puncak dengan aset bersih 675,54 triliun yen, mempertahankan statusnya sebagai kreditor nomor satu dunia.
Fenomena ini menyoroti pergeseran kekuatan ekonomi global, di mana Asia Timur kini memiliki dua pemain dominan di sisi kreditor. Di sisi lain, Amerika Serikat justru semakin dalam menjadi negara debitur, dengan kewajiban bersih yang mencapai angka fantastis 4.304,04 triliun yen. Hal ini mencerminkan ketergantungan AS pada aliran modal asing untuk membiayai defisit transaksi berjalan dan investasi domestiknya.
Dari sisi gross, total aset eksternal Jepang tumbuh 8,5 persen menjadi 1.805,63 triliun yen, dengan investasi langsung yang mengalir deras ke Amerika Serikat dan Swiss. Sementara itu, kewajiban eksternal Jepang juga meningkat 10,5 persen menjadi 1.243,88 triliun yen, menunjukkan bahwa meskipun Jepang adalah kreditor, negara ini juga tetap menjadi tujuan investasi asing yang menarik.
Ke depan, persaingan antara Jepang dan China dalam mengakumulasi aset luar negeri diprediksi akan semakin ketat. Jepang perlu mempertahankan daya saing investasinya, sementara China terus memperluas jangkauan ekonomi melalui inisiatif Belt and Road dan investasi strategis lainnya. Peringkat ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan strategi ekonomi jangka panjang yang akan memengaruhi posisi tawar kedua negara di panggung global.



