Hong Kong Kirim Astronot Pertama ke Luar Angkasa dalam Misi Shenzhou-23
Baca dalam 60 detik
- Li Jiaying, seorang polisi wanita asal Hong Kong, menjadi warga kota itu pertama yang terbang ke luar angkasa bersama misi Shenzhou-23.
- Misi ini menandai langkah baru China dalam eksplorasi antariksa, termasuk rencana misi satu tahun di orbit dan pendaratan manusia di Bulan pada 2030.
- Keberhasilan Li diharapkan mampu meningkatkan rasa nasionalisme, terutama di kalangan generasi muda Hong Kong.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang astronot asal Hong Kong resmi bergabung dalam misi antariksa China. Li Jiaying, perempuan berusia 43 tahun yang berprofesi sebagai polisi dan ibu tiga anak, meluncur ke luar angkasa pada Minggu malam (15/12) sebagai bagian dari kru Shenzhou-23 menuju stasiun luar angkasa Tiangong.
Misi ini tidak hanya bersejarah bagi Hong Kong, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam program antariksa China yang semakin ambisius. Dalam misi ini, setidaknya satu anggota kru direncanakan akan tinggal di orbit selama satu tahun penuh—sebuah durasi yang mendekati rekor 14 bulan yang dipegang kosmonot Rusia Valery Polyakov pada 1995. Keputusan mengenai siapa yang akan menjalani misi panjang itu akan diumumkan kemudian.
Keikutsertaan Li mendapat sambutan hangat dari Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee, yang menyebutnya sebagai momen "bersejarah". Li sendiri mengaku terinspirasi oleh Yang Liwei, astronot pertama China. "Ini kesempatan langka. Kenapa tidak mencoba?" ujarnya kepada kantor berita Xinhua. Dalam pernyataan lain yang disiarkan CCTV, Li mengatakan, "Setinggi apa pun pesawat antariksa China terbang, setinggi itu pula kita bisa menegakkan kepala."
Para analis menilai kisah sukses figur seperti Li dapat dimanfaatkan pemerintah China untuk membangkitkan semangat patriotisme, khususnya di kalangan anak muda Hong Kong. Sejak 2021, China secara rutin mengirimkan astronot ke Tiangong dengan masa tinggal enam bulan. Misi satu tahun ini, menurut Richard de Grijs, astrofisikawan dari Macquarie University Australia, "mendorong perangkat keras dan manusia ke rezim operasional yang berbeda dibandingkan misi Shenzhou yang lebih pendek." Hal ini menunjukkan peningkatan kapabilitas China dalam misi luar angkasa jangka panjang dan eksplorasi antariksa dalam.
Langkah ini juga menjadi bagian dari persaingan dengan Amerika Serikat, yang menargetkan pendaratan berawak di Bulan pada 2028. China sendiri berencana mengirim manusia ke Bulan pada 2030. Pada 2024, wahana Chang'e-6 China berhasil mengambil sampel batuan dari sisi jauh Bulan dan membawanya kembali ke Bumi. Dalam waktu dekat, China akan melakukan uji terbang orbital untuk wahana Mengzhou yang dirancang membawa astronot ke Bulan.
Keberhasilan misi Shenzhou-23 tidak hanya memperkuat posisi China sebagai salah satu kekuatan antariksa utama, tetapi juga membuka babak baru bagi partisipasi Hong Kong dalam program luar angkasa nasional. Ke depannya, integrasi sumber daya manusia dari berbagai wilayah diharapkan semakin mempercepat pencapaian target eksplorasi China.



