Giro d'Italia Stage 15 Berakhir Kontroversial: Sprint Dibatalkan, Dversnes Menang
Baca dalam 60 detik
- Pembatalan sprint akhir pada etape 15 Giro d'Italia memicu perdebatan soal keamanan sirkuit, setelah protes pebalap membuat panitia menetralisir putaran terakhir.
- Fredrik Dversnes dari Uno-X Mobility memanfaatkan situasi untuk meraih kemenangan terbesar dalam kariernya, mengungguli tiga pebalap Italia di garis finis.
- Jonas Vingegaard tetap mempertahankan maglia rosa, namun insiden ini menyoroti kerentanan desain sirkuit perkotaan yang dinilai berbahaya oleh para peserta.

Etape 15 Giro d'Italia yang digelar Minggu (25/5) berakhir dengan kejutan setelah panitia memutuskan menetralisir putaran terakhir di Milan. Keputusan ini diambil menyusul protes keras dari pebalap yang menilai sirkuit terlalu berbahaya, sehingga sprint massal yang sudah dinantikan batal terjadi. Fredrik Dversnes, pebalap asal Norwegia dari tim Uno-X Mobility, keluar sebagai pemenang setelah memanfaatkan situasi breakaway yang tak lagi dikejar oleh peloton.
Dversnes, yang sebelumnya terakhir kali menang pada etape keempat Arctic Race of Norway pada Agustus lalu, mengaku kemenangan ini menjadi momen terbesar dalam kariernya. Ia finis terdepan mengungguli tiga pebalap Italia: Mirco Maestri, Martin Marcellusi, dan Mattia Bais. Hasil ini sekaligus mengecewakan para sprinter yang diprediksi akan memborbardir finis di rute datar sepanjang 157 km dari Voghera ke Milan.
- Fredrik Dversnes finis dengan waktu 3 jam 3 menit 18 detik.
- Empat besar finis dalam waktu yang sama; kelompok pebalap utama tertinggal 57 detik.
- Jonas Vingegaard memimpin klasemen umum dengan selisih 2 menit 20 detik dari Afonso Eulalio.
- Etape 15 adalah etape terakhir sebelum hari istirahat, menyisakan satu pekan balapan tersisa.
Kontroversi bermula saat para pebalap memasuki sirkuit kota Milan dan mendapati banyaknya road furniture — seperti separator beton, bollard, dan marka jalan yang membingungkan — yang dinilai membahayakan keselamatan. Jonas Vingegaard, pemimpin klasemen umum, menjadi salah satu pebalap yang paling vokal menyuarakan kekhawatiran ini. “Kami semua menganggap sirkuit ini berbahaya. Saya tidak ingin merinci, tapi setelah memasuki sirkuit, kami berbicara dengan kepala komisaris balapan dan mereka mengambil keputusan,” ujar Vingegaard kepada RAI usai balapan. Ia menambahkan, “Sebagai pebalap, kami harus senang bahwa mereka mendengarkan kami. Saya ingin berterima kasih kepada penyelenggara.”
“Kami semua menganggap sirkuit ini berbahaya. Saya tidak ingin merinci, tapi setelah memasuki sirkuit, kami berbicara dengan kepala komisaris balapan dan mereka mengambil keputusan.” — Jonas Vingegaard
Keputusan netralisasi awalnya hanya berlaku untuk 5 km terakhir bagi para pesaing klasemen umum, namun kemudian diperluas ke seluruh putaran keempat dan terakhir. Akibatnya, sprint massal yang semula dijadwalkan tidak pernah terjadi, dan para sprinter seperti Dylan Groenewegen dan Ethan Vernon harus puas finis di luar lima besar. Paul Magnier dari Soudal-Quick Step menjadi pebalap pertama dari kelompok utama yang finis, di posisi kelima dengan selisih 57 detik.
Dari sisi klasemen umum, Vingegaard tetap kokoh di puncak dengan keunggulan 2 menit 20 detik atas Afonso Eulalio (Bahrain-Victorious). Felix Gall (Decathlon-CMA CGM) berada di posisi ketiga dengan selisih 2 menit 50 detik. Pekan ketiga yang akan dimulai Selasa (27/5) diperkirakan menjadi penentu, dengan tiga etape pegunungan yang bisa mengubah peta persaingan. Vingegaard, yang sudah memenangi tiga etape di edisi 2026 ini, diprediksi akan fokus mempertahankan maglia rosa hingga garis finis di Roma.
Insiden netralisasi ini memicu diskusi lebih luas tentang standar keamanan sirkuit perkotaan dalam balapan sepeda. Meskipun penyelenggara Giro d'Italia telah berusaha menghadirkan rute yang spektakuler, protes pebalap menunjukkan bahwa aspek keselamatan tidak boleh dikorbankan demi estetika. Ke depannya, diharapkan ada evaluasi lebih ketat terhadap desain sirkuit, terutama pada area dengan banyak rintangan buatan manusia.



