Emma Raducanu Tersingkir di Babak Awal Prancis Terbuka: Krisis Kepercayaan Diri dan Kebugaran
Baca dalam 60 detik
- Emma Raducanu gagal melewati ronde pertama Prancis Terbuka setelah kalah 6-0, 7-6(4) dari Solana Sierra, dengan 42 kesalahan sendiri.
- Petenis Inggris nomor satu itu mengaku minim pertandingan dan kepercayaan diri, serta masih terganggu batuk berkepanjangan pasca-virus.
- Raducanu kini beralih ke musim lapangan rumput, dengan harapan bisa bangkit di Queen's Club mulai 8 Juni.

Emma Raducanu harus mengakui keunggulan Solana Sierra di babak pertama Prancis Terbuka, Selasa (28/5). Unggulan pertama asal Inggris itu takluk dengan skor 6-0, 7-6(4) dalam pertandingan yang berlangsung di Philippe-Chatrier Court. Kekalahan ini menjadi kegagalan pertamanya di Paris setelah sebelumnya selalu lolos ke babak kedua.
Raducanu tampil sangat buruk di set pertama. Ia tidak mampu mencatatkan satu winner pun dan melakukan 15 kesalahan sendiri. Kondisi ini membuat petenis berusia 23 tahun tersebut kesulitan menemukan ritme permainan. "Saya tidak bisa mempercayai pukulan saya, tidak punya kendali atas bola," ujarnya seusai laga.
Di set kedua, Raducanu sempat tertinggal 4-1 sebelum bangkit dan memaksa tie-break. Namun, momentum itu tidak cukup untuk membalikkan keadaan. "Saya senang setidaknya bisa memenangkan beberapa game di set kedua," tambahnya.
Kekalahan ini tidak lepas dari minimnya persiapan. Raducanu hanya memainkan satu pertandingan dalam dua setengah bulan terakhir akibat penyakit virus yang berkepanjangan. Ia masih terganggu batuk yang diperparah oleh debu tanah liat di lapangan. "Saya kurang pertandingan, kurang percaya diri datang ke turnamen ini," akunya.
Mantan juara AS Terbuka 2021 itu juga mengaku kesulitan secara mental. Air matanya menetes saat ditanya bagaimana ia terus bangkit setelah berbagai cobaan. "Butuh banyak ketahanan. Saya mencoba yang terbaik setiap hari, dan itu yang bisa saya minta dari diri sendiri," katanya.
Meski demikian, Raducanu tidak menyesali keputusannya bermain di Prancis Terbuka. Ia menilai pengalaman ini akan membantunya meskipun hasilnya pahit. "Satu-satunya cara untuk menghadapi dan memperbaiki perasaan saya adalah melalui bagian-bagian sulit, melalui rasa sakitnya, dan semoga keluar menjadi lebih baik dan lebih kuat," tegasnya.
Legenda tenis Swedia, Mats Wilander, menilai Raducanu tidak memiliki senjata besar seperti pemain top lainnya. "Senjatanya adalah pergerakan dan mencoba mengambil bola lebih awal. Apakah itu cukup? Mungkin tidak di tanah liat, tetapi kita tahu dia punya mental juara," ujarnya. Wilander juga menyoroti perubahan pelatih yang terlalu sering, namun menilai kerja sama dengan Andrew Richardson bisa menjadi awal yang baik.
Mantan petenis Inggris Johanna Konta menambahkan bahwa ekspektasi terhadap Raducanu tidak akan pernah hilang. "Tidak ada versi di mana Anda bisa kembali ke dasar. Anda harus terus bergerak maju," katanya.
Raducanu kini akan fokus pada musim lapangan rumput, dimulai dengan turnamen di Queen's Club pada 8 Juni. Ia berharap performa kuatnya di permukaan ini bisa menjadi titik balik setelah serangkaian hasil mengecewakan.



