Roland-Garros 2026: Sinner Favorit Usai Alcaraz Mundur, Djokovic Hadapi Misi Berat
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner diunggulkan merebut gelar Grand Slam pertamanya di tanah liat setelah Carlos Alcaraz mengundurkan diri, memperkuat dominasinya di puncak peringkat dunia.
- Novak Djokovic datang ke Paris dengan target rekor gelar ke-25, namun persiapan yang terganggu membuatnya diragukan mampu bersaing di turnamen lima set.
- Di sektor putri, Iga Swiatek kembali menjadi favorit berkat kedatangan pelatih baru dan performa impresif di Roma, sementara Aryna Sabalenka masih beradaptasi dengan permukaan tanah liat.

Paris, Prancis — Roland-Garros 2026 akan menjadi panggung bagi Jannik Sinner untuk melengkapi koleksi Grand Slam-nya setelah sukses menaklukkan Australia, Wimbledon, dan AS Terbuka. Absennya Carlos Alcaraz karena cedera membuat petenis Italia itu kian diunggulkan, sementara Novak Djokovic berjuang melawan waktu dan kebugaran demi menambah trofi ke-25 dalam kariernya.
Para analis dan legenda tenis, seperti Tim Henman, Laura Robson, Juan Martin del Potro, dan Gabriela Sabatini, memberikan pandangan mereka menjelang turnamen Grand Slam kedua tahun ini. Henman dan Robson sepakat bahwa Sinner adalah favorit mutlak di sektor putra. “Dengan Alcaraz tidak bermain, Sinner tampak tak terkalahkan. Ia dalam kondisi prima, bugar, dan memiliki keunggulan mental signifikan atas lawan,” ujar Henman. Robson menambahkan, “Tidak ada yang mendekati levelnya saat ini.”
Di sisi lain, Djokovic mendapat sorotan khusus. Meski masih dianggap sebagai pemain terhebat sepanjang masa, kondisi fisiknya di usia 39 tahun menjadi kekhawatiran. “Saya rasa ini bukan kesempatan terakhir Novak. Peluang terbesarnya justru di Wimbledon, karena lapangan rumput lebih ringan secara fisik,” kata Robson. Henman setuju bahwa Djokovic masih bisa bersaing di turnamen lain, tetapi di tanah liat yang lambat, ia akan kesulitan.
Untuk sektor putri, Iga Swiatek kembali menjadi unggulan utama. Kedatangan Francis Roig, mantan pelatih Rafael Nadal, sebagai pelatih baru disebut-sebut membawa ketenangan dan permainan agresif yang terkontrol. “Ia tampak lebih rileks dan bermain dengan percaya diri. Saya yakin ia akan meraih gelar lain di sini,” ujar Sabatini. Robson juga mempertahankan prediksi awalnya: “Swiatek adalah pilihan saya sejak awal tahun, dan performanya di Roma memperkuat keyakinan itu.”
Sementara itu, Aryna Sabalenka, yang menduduki peringkat satu dunia, masih dalam proses penyempurnaan permainan di atas tanah liat. Meski dominan di lapangan keras, konsistensinya di Roland-Garros masih dipertanyakan. “Ia harus berjuang keras untuk memenangkan Grand Slam, dan variasi permainannya mulai terlihat. Itu hal positif,” komentar Sabatini.
Di luar favorit utama, beberapa nama muda mencuri perhatian. Joao Fonseca dari Brasil dipuji karena forehand kuat dan mentalitas juara. “Ia punya potensi untuk bersaing dengan Alcaraz dan Sinner dalam beberapa tahun ke depan,” kata del Potro. Arthur Fils dari Prancis juga disebut sebagai kuda hitam, meski statusnya mungkin sudah bukan lagi rahasia. Di sektor putri, Peyton Stearns dan Anastasia Potapova disebut-sebut bisa menjadi kejutan.
Harapan petenis Inggris bertumpu pada Cameron Norrie, yang kembali ke peringkat 20 dunia dan menunjukkan kepercayaan diri. “Jika ada yang bisa lolos ke pekan kedua, itu adalah Norrie,” ujar Henman. Namun, tantangan tetap besar mengingat persaingan ketat di babak awal.
Dengan absennya Alcaraz dan ketidakpastian Djokovic, Roland-Garros 2026 membuka peluang bagi generasi baru untuk bersinar. Sinner menjadi simbol transisi kekuasaan di tenis putra, sementara Swiatek berusaha mempertahankan dominasinya di tanah liat. Pertanyaannya, akankah sejarah berpihak pada favorit atau justru melahirkan kejutan?



