Max Verstappen Ancam Hengkang dari F1 Jika Regulasi Mesin Baru Tak Diubah
Baca dalam 60 detik
- Verstappen menyatakan secara terbuka bahwa ia akan pensiun dari F1 pada akhir musim jika perubahan regulasi mesin untuk meningkatkan rasio tenaga pembakaran internal tidak disetujui.
- Usulan FIA untuk menggeser keseimbangan energi menjadi 60:40 demi mengurangi ketergantungan pada manajemen energi mendapat tentangan dari beberapa pabrikan, termasuk Ferrari dan Audi.
- Pembalap Red Bull itu mengindikasikan akan bertahan jika perubahan disahkan, karena diyakini akan mengembalikan gaya balap yang lebih natural dan kompetitif.

Max Verstappen kembali mengguncang paddock Formula 1 dengan pernyataan bahwa ia siap meninggalkan ajang balap jet darat pada akhir musim ini jika rencana revisi regulasi mesin untuk tahun depan gagal diimplementasikan. Ancaman ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara FIA, tim, dan pabrikan mesin terkait perubahan teknis yang dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas balapan.
FIA telah mengusulkan penyesuaian pada keseimbangan energi mesin hybrid, dari rasio saat ini sekitar 54:46 menjadi 60:40 yang lebih menguntungkan mesin pembakaran internal (ICE). Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pembalap pada strategi manajemen energi yang rumit, terutama saat sesi kualifikasi. Namun, usulan tersebut belum memperoleh dukungan yang cukup dalam mekanisme voting tata kelola F1 karena adanya penolakan dari sejumlah pabrikan.
Verstappen, yang start dari posisi keenam di Grand Prix Kanada, menegaskan bahwa situasi saat ini tidak dapat dipertahankan secara mental. “Jika tetap seperti ini, tahun depan akan menjadi tahun yang panjang, dan saya tidak menginginkannya. Secara mental, tidak mungkin bagi saya untuk bertahan seperti ini,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa jika memutuskan berhenti, ia tidak akan kembali karena banyak hal menarik lain di luar F1.
Andrea Stella, prinsipal tim McLaren, mendukung penuh rencana tersebut. Ia menekankan bahwa kepentingan umum olahraga harus diutamakan di atas kepentingan individu pabrikan. “Jika kita tidak memiliki olahraga yang baik, jika kita tidak menjaga nilai bisnis dan nilai Formula 1, semua orang akan rugi,” kata Stella. Ia mencontohkan bagaimana pembalap saat ini sering melaporkan bahwa menunda akselerasi keluar tikungan justru menguntungkan karena menyisakan lebih banyak energi listrik untuk akselerasi di lintasan lurus – sebuah paradoks yang ingin diperbaiki.
Di sisi lain, penolakan datang dari Audi yang keberatan dengan biaya implementasi, serta Ferrari yang dikhawatirkan akan kehilangan peluang pengembangan tambahan yang diizinkan setelah balapan ini berdasarkan regulasi yang ada. Mercedes dan Red Bull justru mendukung perubahan tersebut. Negosiasi masih berlangsung di sela-sela Grand Prix Kanada, dan masih ada optimisme bahwa cukup banyak pabrikan yang dapat diyakinkan untuk mengubah sikap.
Verstappen, yang sebelumnya sudah mengisyaratkan keraguannya setelah GP Jepang, kini memberi sedikit sinyal positif. Ia menyatakan bahwa jika perubahan disetujui, balapan akan “kembali hampir normal” dan ia akan lebih bahagia. “Itu akan membuat produk lebih baik, yang berarti saya lebih bahagia. Dan itulah yang saya inginkan – bisa terus berkompetisi dan tampil baik,” pungkasnya. Masa depan juara dunia bertahan ini kini bergantung pada keputusan para pemangku kepentingan F1 dalam waktu dekat.



