Kisah Nyata: Endometriosis Stadium 4 Hampir Merenggut Nyawa Akibat Diagnosis Terlambat
Baca dalam 60 detik
- Seorang pasien endometriosis stadium 4 mengalami sepsis dan operasi darurat setelah bertahun-tahun gejalanya diabaikan oleh tenaga medis.
- Keterlambatan diagnosis memperparah kondisi, menyebabkan kerusakan organ hingga ginjal dan usus, serta komplikasi yang mengancam jiwa.
- Kasus ini menyoroti perlunya perubahan pendekatan medis terhadap endometriosis, termasuk deteksi dini dan penanganan serius tanpa stigma gender.

Seorang perempuan yang didiagnosis endometriosis stadium 4 hampir kehilangan nyawa setelah bertahun-tahun gejalanya dianggap remeh oleh dokter. Dalam sebuah pengakuan yang menggetarkan, ia menceritakan bagaimana nyeri haid yang dianggap 'normal' justru berujung pada sepsis, operasi darurat, dan perawatan intensif selama berminggu-minggu.
Pasien tersebut mengaku sejak remaja sering mengalami nyeri luar biasa, muntah-muntah, dan pendarahan berat saat menstruasi. Namun, setiap kali mengeluh, dokter kerap merespons dengan pernyataan standar: "Tidak ada obatnya, tapi ini bukan kanker dan tidak akan membunuhmu." Kalimat itu, menurutnya, justru membuatnya merasa bersalah dan enggan bersuara. Akibatnya, kondisinya terus memburuk tanpa penanganan yang memadai.
Pada 2021, ia akhirnya menemui seorang spesialis yang mengonfirmasi bahwa endometriosisnya sudah sangat parah. Operasi yang diperkirakan berlangsung lima jam ternyata memakan waktu 12 jam. Tim bedah menemukan bahwa jaringan endometriosis telah menyebar luas—dari panggul, usus yang menempel pada rahim, hingga ke ginjal dan ureter. "Spesialis saya bilang ini kasus terparah yang pernah ia tangani," kenangnya.
Pascaoperasi, ia mengalami sepsis akibat urine bocor ke rongga perut karena kerusakan ureter. Ia dirawat di ICU selama beberapa pekan, menjalani terapi antibiotik intensif, dan harus menjalani operasi tambahan karena usus saling menempel hingga menyebabkan kolaps paru-paru. "Saya ingat betapa dokter dulu bilang endometriosis tidak mematikan, tapi kenyataannya saya berjuang untuk bernapas sendiri," ujarnya.
Ia menyesalkan bahwa diskriminasi dan stereotip gender dalam layanan kesehatan menjadi penyebab utama keterlambatan diagnosis. Banyak dokter, terutama yang tidak terbiasa dengan endometriosis, cenderung menganggap remeh keluhan pasien perempuan. Padahal, deteksi dini dan penanganan agresif bisa mencegah kerusakan permanen.
"Jika konsekuensi endometriosis parah diketahui secara luas, penyedia layanan kesehatan akan lebih bertanggung jawab dan proaktif dalam memberikan akses perawatan," tegasnya.
Ke depannya, ia berharap kisahnya dapat mendorong perubahan: peningkatan edukasi medis tentang endometriosis, pendanaan riset yang lebih besar, dan penghapusan stigma bahwa penyakit ini 'hanya masalah perempuan'. Tidak ada pasien yang pantas diabaikan saat mencari pertolongan medis.



