Donasi Sel Punca: Mitos Menakutkan vs Realitas yang Lebih Sederhana
Baca dalam 60 detik
- Donasi sel punca sering dianggap menakutkan, namun prosesnya relatif sederhana dan minim rasa sakit.
- Seorang donor berbagi pengalaman langsung, mulai dari suntikan G-CSF hingga prosedur apheresis yang hanya memakan waktu 2,5 jam.
- Pentingnya pendaftaran donor sel punca untuk mendukung pengobatan kanker darah dan penelitian penyakit lainnya.

Selama ini, donasi sel punca kerap dibayangi stigma sebagai prosedur rumit dan menyakitkan. Namun, pengalaman seorang donor yang tergabung dalam organisasi Anthony Nolan membuktikan sebaliknya. Proses yang dijalaninya justru jauh lebih ringan dari yang dibayangkan, bahkan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari setengah hari.
Donor yang telah terdaftar selama 12 tahun itu mendapat panggilan untuk menyumbangkan sel punca bagi keperluan penelitian. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan—termasuk tes darah, urine, BMI, dan COVID-19—ia dinyatakan layak. Tahap persiapan meliputi suntikan harian granulocyte colony stimulating factor (G-CSF) selama empat hari untuk meningkatkan jumlah sel punca dalam aliran darah. Meski awalnya grogi karena harus menyuntik diri sendiri, donor tersebut mengaku cepat terbiasa. Efek samping yang dirasakan hanya nyeri tubuh ringan, terutama di punggung bawah, dan rasa lelah.
Proses pengambilan sel punca, yang disebut 'pemanenan', dilakukan dengan metode apheresis. Darah dialirkan dari lengan kiri ke mesin pemisah sel, lalu komponen yang mengandung sel punca diambil, dan sisanya dikembalikan ke tubuh melalui lengan kanan. Selama 2,5 jam berbaring, donor bisa membaca, bermain ponsel, atau bahkan makan. Satu-satunya keluhan adalah nyeri tumpul di area jarum dan sensasi kesemutan di mulut akibat obat pengencer darah, yang segera reda setelah mengonsumsi kalsium.
Setelah prosedur, donor dianjurkan minum banyak air dan menghindari olahraga kontak selama seminggu untuk memberi waktu limpa yang sempat menyusut kembali ke ukuran normal. Ia mengaku bisa kembali beraktivitas seperti biasa tanpa masalah berarti. Pengalaman ini, menurutnya, jauh dari kesan mengerikan yang sering digambarkan.
Donasi sel punca memiliki peran krusial dalam pengobatan kanker darah dan kelainan darah lainnya, serta membuka peluang terapi baru untuk penyakit yang belum ada obatnya. Organisasi seperti Anthony Nolan di Inggris terus mendorong pendaftaran donor, terutama usia 16–30 tahun. Dengan proses yang relatif mudah dan risiko minimal, donasi sel punca layak dipertimbangkan bagi mereka yang memenuhi syarat.



