Pandemi Meninggalkan Luka Psikologis Global: Lonjakan Gangguan Mental Mencapai 25%
Baca dalam 60 detik
- WHO mencatat kenaikan prevalensi kecemasan dan depresi sebesar 25% secara global pada tahun pertama pandemi, dengan kelompok usia muda dan tenaga kesehatan sebagai yang paling terdampak.
- Tekanan ekonomi, isolasi sosial, dan ketakutan akan infeksi menjadi pemicu utama memburuknya kondisi psikologis, bahkan memunculkan kasus baru pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan mental.
- Para ahli mendesak pendanaan layanan kesehatan mental yang memadai dan integrasi lintas sektor untuk mengatasi krisis yang diprediksi akan berlangsung jangka panjang.

Pandemi COVID-19 tidak hanya mengguncang sistem kesehatan fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa angka kecemasan dan depresi meningkat hingga 25% pada tahun pertama pandemi. Lonjakan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketakutan tertular virus, isolasi sosial, hingga tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa kelompok usia muda dan tenaga kesehatan menjadi pihak yang paling rentan. Survei terhadap individu berusia 18-35 tahun di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 80% responden melaporkan gejala depresi signifikan, sementara 61% mengalami kecemasan sedang hingga berat. Di Eropa, laporan Parlemen Eropa mencatat delapan dari sepuluh orang di Italia membutuhkan perawatan psikologis, dan sepertiga populasi Belanda mengaku dilanda kecemasan.
Lee Chambers, psikolog dan pendiri Essentialise Workplace Wellbeing, menyoroti bahwa pandemi memicu munculnya kasus baru gangguan mental pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat masalah psikologis. “Mereka yang sebelumnya tidak pernah teridentifikasi mengalami kondisi kesehatan mental kini mengaku berjuang secara signifikan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa dampak pandemi melampaui populasi yang sudah rentan sebelumnya.
Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan yang mengalami tekanan luar biasa. Sebuah meta-analisis menemukan bahwa kecemasan, depresi, dan stres adalah keluhan paling umum di kalangan pekerja medis. Banyak dari mereka melaporkan kelelahan ekstrem, insomnia, hingga pikiran untuk bunuh diri. Chambers menyebut fenomena “cedera moral” yang dirasakan tenaga kesehatan saat mereka berjuang di garis depan sementara sebagian pihak lain tidak menunjukkan kepedulian serupa.
Dampak pada generasi muda juga tidak kalah serius. Gangguan pada pendidikan, pekerjaan, dan interaksi sosial menyebabkan peningkatan gejala depresi dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) di kalangan pelajar. Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada Agustus 2020 menyebut dampak pandemi terhadap kaum muda bersifat “sistematis, dalam, dan tidak proporsional.” Laporan OECD menegaskan bahwa prevalensi kecemasan dan depresi di kalangan anak muda tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis.
Meskipun kekhawatiran akan lonjakan angka bunuh diri tidak terbukti—data CDC justru menunjukkan sedikit penurunan—sistem layanan kesehatan mental di berbagai negara kewalahan. Di Inggris, NHS mencatat rekor 4,3 juta rujukan pada 2021, dengan setidaknya 1,4 juta orang masih dalam daftar tunggu. Dr. Adrian James, presiden Royal College of Psychiatrists, menekankan bahwa “pandemi telah menciptakan tunggakan terbesar dalam sejarah NHS.”
Para ahli menekankan pentingnya pendekatan komprehensif untuk memulihkan kesehatan mental masyarakat. Chambers mengusulkan layanan yang lebih terintegrasi antara sektor pendidikan, medis, bisnis, dan komunitas. Sementara itu, Dr. James mendesak pendanaan penuh untuk layanan kesehatan mental agar akses perawatan dapat dijamin. Dalam konferensi pers Maret 2022, Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut krisis ini sebagai “panggilan bangun bagi semua negara untuk lebih memperhatikan kesehatan mental.”
Ke depan, pemulihan yang adil dan merata menjadi kunci. Chambers mengingatkan bahwa kesenjangan sosial yang terbuka lebar selama pandemi harus diatasi dengan kebijakan yang mengakui bahwa beberapa kelompok mengalami tantangan lebih berat. “Jika kita bisa menghubungkan titik-titik yang ada, itu akan membuat perbedaan besar,” pungkasnya.



