Danantara Buka Peluang Penutupan BUMN Bermasalah, PT INTI Jadi Kandidat Terdepan
Baca dalam 60 detik
- COO Danantara mengindikasikan PT INTI berpotensi ditutup karena kesulitan bisnis yang berkepanjangan.
- Sebelum Danantara, laba BUMN sehat tidak bisa dialokasikan untuk menolong perusahaan negara lain yang terpuruk.
- Model holding company diyakini mempercepat restrukturisasi dan meningkatkan kontribusi BUMN terhadap ekonomi nasional.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, memberikan sinyal kuat bahwa sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang terus mengalami tekanan bisnis dan sulit dipulihkan dapat menghadapi opsi penutupan. Salah satu nama yang disebut secara spesifik adalah PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), perusahaan yang dulu sangat dikenal di Bandung.
Dalam paparannya di Jogja Financial Festival (Finfest) 2026, Jumat (22/5/2026), Dony mengungkapkan bahwa kelemahan fundamental pengelolaan BUMN selama ini adalah tidak adanya integrasi antarperusahaan. Akibatnya, BUMN yang sehat seperti BRI dan Bank Mandiri tidak memiliki mekanisme untuk menyuntikkan laba mereka ke perusahaan negara lain yang sedang terpuruk. “Labanya BRI, Bank Mandiri dan lainnya tidak bisa dipergunakan untuk membantu perusahaan yang lain,” ujarnya.
Kondisi ini, menurut Dony, menyebabkan beberapa BUMN yang sempat berjaya perlahan-lahan tertekan. “Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan, mungkin akan kita tutup juga,” katanya. Selain PT INTI, ia juga menyinggung PT Jakarta Lloyd dan PT Krakatau Steel sebagai contoh BUMN yang pernah mengalami tekanan serupa.
Melalui Danantara, yang berstatus sebagai sovereign wealth fund berbasis perusahaan negara, seluruh BUMN kini dikonsolidasikan dalam satu holding company. Langkah ini dinilai memudahkan proses restrukturisasi dan penyehatan, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan karena masing-masing BUMN beroperasi secara independen. Dony menegaskan bahwa perubahan tata kelola ini bertujuan agar BUMN dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Dony menambahkan bahwa dengan adanya satu holding company, proses penyehatan perusahaan menjadi lebih efisien. “Dengan satu holding company sekarang itu mudah bagi kita untuk melakukan proses penyehatan daripada perusahaan-perusahaan kita,” katanya. Ia berharap transformasi ini akan mendorong BUMN menjadi motor percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah penutupan PT INTI, jika benar-benar terjadi, akan menjadi sinyal keras bagi BUMN lain yang masih bergulat dengan masalah keuangan. Namun, di sisi lain, konsolidasi melalui Danantara juga membuka peluang bagi BUMN yang sehat untuk berkembang lebih pesat tanpa terbebani oleh entitas yang terus merugi. Para pelaku pasar dan investor akan mencermati langkah selanjutnya dari Danantara, terutama terkait portofolio BUMN mana yang akan direstrukturisasi atau ditutup.



