Pemain Tenis Dunia Protes Pembagian Pendapatan Grand Slam, Batasi Wawancara Hanya 15 Menit
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka memimpin aksi protes pemain dengan membatasi durasi wawancara menjadi 15 menit sebagai simbol ketidakpuasan terhadap alokasi hadiah yang hanya 15% dari pendapatan turnamen.
- Aksi ini didukung oleh petenis top seperti Jannik Sinner dan Iga Swiatek, menyoroti tuntutan peningkatan hadiah menjadi 22% pada 2030 serta perbaikan kesejahteraan pemain.
- Meski belum ada ancaman boikot resmi, langkah ini menunjukkan eskalasi ketegangan antara pemain dan penyelenggara Grand Slam yang dinilai kurang responsif.

Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka secara simbolis memangkas sesi wawancara di Prancis Terbuka menjadi hanya 15 menit, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pembagian pendapatan turnamen Grand Slam. Aksi yang berlangsung pada Jumat (24/5) ini merupakan bagian dari gerakan kolektif para pemain papan atas yang menuntut alokasi hadiah lebih besar dari pendapatan yang dihasilkan turnamen.
Sabalenka, yang selama ini vokal dalam memperjuangkan hak pemain, hanya menyediakan lima menit untuk wawancara on-camera dan sepuluh menit untuk sesi dengan wartawan tulis. Ia bahkan mengakhiri sesi berbahasa Inggris lebih awal demi memberikan kesempatan kepada jurnalis dari negaranya. "Kami hanya ingin menyampaikan pesan dan kami bersatu. Lima belas menit lebih baik daripada nol," ujar Sabalenka dalam konferensi pers.
Aksi serupa juga dilakukan oleh petenis top lainnya, termasuk Jannik Sinner (peringkat satu dunia putra) dan Iga Swiatek (juara bertahan Prancis Terbuka). Sinner menilai kurangnya rasa hormat terhadap pemain, sementara Taylor Fritz mengatakan mereka merasa diabaikan. Novak Djokovic, yang tidak terlibat dalam perencanaan aksi, tetap menyatakan dukungan prinsipnya terhadap perjuangan pemain.
Tuntutan pemain tidak hanya soal hadiah, tetapi juga mencakup kesejahteraan seperti kontribusi dana pensiun, perawatan kesehatan, dan cuti melahirkan. Mereka juga meminta keterlibatan lebih dalam pengambilan keputusan besar turnamen, termasuk penjadwalan yang lebih manusiawi dan pengurangan pertandingan larut malam. Pertemuan antara perwakilan pemain dan penyelenggara telah berlangsung sejak tahun lalu, namun kemajuan dinilai lambat.
Direktur Turnamen Prancis Terbuka, Amelie Mauresmo, mengaku sedih dengan aksi ini tetapi optimis masalah dapat diselesaikan. Mauresmo dan Presiden Federasi Tenis Prancis, Gilles Moretton, dijadwalkan bertemu dengan mantan ketua WTA Larry Scott yang mewakili pemain pada Jumat malam. Meski demikian, para pemain belum berspekulasi mengenai kemungkinan boikot turnamen di masa depan. Taylor Fritz menegaskan, "Saya tidak ingin mengeluarkan ancaman besar kecuali kami benar-benar siap melakukannya."
Aturan Grand Slam mewajibkan pemain utama untuk mengikuti sesi media guna mendukung promosi olahraga. Pelanggaran dapat dikenakan denda hingga ยฃ50.000. Namun, pemain yang tetap memenuhi kewajiban inti namun membatasi waktu tidak akan dihukum. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa solidaritas pemain semakin menguat, dan jika tidak direspons serius, bukan tidak mungkin aksi boikot akan menjadi opsi nyata di masa mendatang.



