Sosok di Balik Tiga Gelar Persib: Kisah Sutiono Lamso, Striker Lokal yang Menaklukkan Era Tanpa Pemain Asing
Baca dalam 60 detik
- Sutiono Lamso, legenda Persib asal Purwokerto, mengantarkan Maung Bandung meraih tiga gelar kasta tertinggi Indonesia pada era 1990-an.
- Kunci sukses Persib saat itu adalah kebugaran fisik dan kekompakan tim, yang mampu mengimbangi klub-klub bertabur pemain asing seperti Pelita Jaya dan Petrokimia Putra.
- Setelah pensiun sebagai PNS, Lamso kembali ke dunia sepak bola sebagai pelatih, menunjukkan dedikasinya yang tak pernah padam pada olahraga ini.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4113176/original/082998600_1659616965-Sutiono_Lamso.jpg)
Legenda hidup Persib Bandung, Sutiono Lamso, adalah bukti nyata bahwa loyalitas dan kerja keras bisa mengantarkan seorang pemain lokal menjadi pahlawan di tengah gempuran pemain asing. Pria kelahiran Purwokerto, 19 Agustus 1966, ini menghabiskan 12 tahun kariernya bersama Maung Bandung (1988–2000) dan berhasil mempersembahkan tiga gelar bergengsi: dua gelar Perserikatan (1989/1990 dan 1993/1994) serta satu gelar Liga Indonesia (1994/1995).
Perjalanan Lamso menuju puncak kejayaan tidaklah instan. Ia pertama kali menginjakkan kaki di Bandung pada akhir 1988 dan bergabung dengan klub internal Persib, Produta. Dalam dua pertandingan pertamanya, ia langsung mencetak tiga gol, yang menarik perhatian pelatih senior Nandar Iskandar. Tanpa ragu, Iskandar mempromosikan Lamso ke tim senior. “Saya kaget, antara percaya dan tidak percaya. Persib adalah tim idola saya sejak kecil,” kenang Lamso dalam wawancara dengan kanal YouTube Bicara Bola.
Ketajamannya sebagai striker segera teruji. Pada musim 1993/1994, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik, dan setahun kemudian ia menjadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia. Prestasi itu memberinya hadiah uang sebesar Rp15 juta, yang sebagian ia bagikan kepada rekan setimnya. “Saya top skor dari 1992 ke 1993, saingan saya Alexander Saununu. Hadiahnya Rp15 juta, saya bagi-bagi sama teman,” ujarnya.
Lamso mengungkapkan dua kunci utama yang membuat Persib tetap tangguh meski tanpa pemain asing: kebugaran fisik dan kekompakan tim. “Kami harus menjaga kebugaran dan kekompakan. Dengan itu, kami bisa mengatasi tim-tim lawan yang punya pemain asing seperti Pelita Jaya (dengan Maboang Kessack dan Roger Milla) atau Bandung Raya (dengan Olinga Atangana dan Dejan Gluscevic),” jelasnya. Ia juga menyoroti peran gelandang kecil namun lincah seperti Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, dan Yudi Guntara yang mampu mengimbangi pemain lawan yang lebih besar dan tinggi.
Setelah pensiun dari sepak bola, Lamso sempat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebelum akhirnya kembali ke lapangan sebagai pelatih. “Jiwa saya memang di bola,” katanya. Kini, di usianya yang ke-59, ia masih setia mendukung Persib dan bangga dengan pencapaian tim di era Bojan Hodak, termasuk peluang meraih hattrick gelar musim ini.
Kisah Sutiono Lamso adalah pengingat bahwa sepak bola Indonesia pernah memiliki generasi pemain lokal yang mampu bersaing tanpa bergantung pada pemain asing. Dedikasi dan semangatnya menjadi warisan berharga bagi Bobotoh dan sepak bola nasional.



