Mbappé Klaim Dianggap Striker Pilihan Keempat, Arbeloa Bantah Langsung
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan kontradiktif: Kylian Mbappé mengungkapkan bahwa pelatih Real Madrid, Álvaro Arbeloa, menyebutnya sebagai opsi keempat di lini depan—di belakang Mastantuono, Vinícius Jr., dan Gonzalo García.
- Bantahan dari pelatih: Arbeloa secara terbuka menyangkal pernyataan tersebut, mengklaim tidak pernah mengatakan hal serupa dan berspekulasi bahwa Mbappé mungkin "salah paham".
- Pekan kacang—dan denda: Insiden ini menjadi babak terbaru dari pekan penuh gejolak Madrid yang juga meliputi denda €500.000 untuk Valverde dan Tchouaméni akibat alterkasi latihan, kekalahan dari Barcelona yang mengubur harapan liga, serta seruan pemilu dini dari presiden klub.

MADRID, SPANYOL — Ketegangan internal di Real Madrid mencapai titik baru setelah bintang Prancis Kylian Mbappé mengklaim bahwa pelatih Álvaro Arbeloa menyebutnya sebagai striker pilihan keempat dalam skuad—di belakang Franco Mastantuono, Vinícius Júnior, dan Gonzalo García. Pernyataan yang disampaikan Mbappé usai tidak diturunkan sebagai starter dalam kemenangan 2-0 melawan Oviedo pada Kamis (14/5) ini langsung dibantah oleh Arbeloa, yang mengaku "tidak tahu harus mengatakan apa" dan berspekulasi bahwa sang pemain mungkin salah memahami komunikasi di ruang ganti.
Dari Cedera hingga Liburan: Mengapa Mbappé Dikritik?
Mbappé, yang sebelumnya mengalami cedera hamstring kiri, menegaskan bahwa ia telah pulih 100 persen dan siap bermain penuh melawan Oviedo. Namun, Arbeloa memilih untuk tidak memainkannya sejak awal—dan ketika akhirnya masuk menggantikan García pada menit ke-68, ia disambut cemoohan dari publik Santiago Bernabéu. Ironisnya, Mbappé tetap berkontribusi dengan memberikan assist untuk gol Jude Bellingham yang mengamankan kemenangan. Di luar lapangan, kritik terhadap pemain asal Prancis ini semakin tajam setelah media Spanyol melaporkan perjalanannya ke Italia bersama aktris Ester Expósito selama masa pemulihan cedera—sebuah langkah yang dinilai sebagian penggemar sebagai kurang serius dalam menjalani rehabilitasi. Mbappé membela diri dengan mengatakan bahwa ia memiliki izin dari klub untuk meninggalkan Madrid dan bahwa "bukan hanya saya satu-satunya" yang melakukan hal serupa.
Klaim Mbappé bahwa ia adalah striker pilihan keempat—jika benar—menandakan penurunan status drastis bagi pemain yang dua musim lalu didatangkan dengan sorotan media internasional sebagai salah satu transfer terbesar dalam sejarah sepak bola. Fakta bahwa ia mengaku ditempatkan di belakang Mastantuono (pemain muda), Vinícius Jr. (yang memang sudah mapan), dan Gonzalo García (pemain akademi) menunjukkan bahwa kepercayaan pelatih terhadapnya saat ini berada di titik terendah. Namun, bantahan langsung Arbeloa menciptakan narasi yang membingungkan: apakah Mbappé salah mendengar, atau pelatih mencoba meredakan ketegangan di depan publik?
📋 PEKAN KACAU REAL MADRID
Insiden latihan: Valverde & Tchouaméni didenda €500.000 masing-masing
El Clásico: Kalah 0-2 dari Barcelona, lawan resmi juara liga
Presiden klub: Florentino Pérez serukan pemilu dini, klaim jadi korban "kampanye terorganisir"
Status Mbappé sejak datang: Madrid belum menangkan trofi mayor
Dampak Psikologis dan Bahaya Spiral Negatif
Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah konteks pekan yang sudah sangat kacau bagi Real Madrid. Sebelum pernyataan Mbappé, klub sudah diguncang oleh alterkasi fisik dalam latihan yang berujung pada denda monumental sebesar €500.000 (sekitar $589.000) untuk Federico Valverde dan Aurélien Tchouaméni—sebuah angka yang mengindikasikan betapa seriusnya pelanggaran internal tersebut. Kemudian datang kekalahan 0-2 dari Barcelona di El Clásico yang tidak hanya memalukan tetapi juga secara matematis mengubur peluang Madrid untuk merebut gelar liga dari tangan rival abadinya. Di puncak semuanya, presiden Florentino Pérez—yang dikenal sebagai sosok yang jarang goyah—justru memicu kekacauan politik dengan menyerukan pemilihan presiden dini setelah mengklaim dirinya menjadi korban "kampanye terorganisir" untuk menggulingkannya.
Prospek ke Depan: Akankah Mbappé Bertahan atau Pergi?
Ke depan, hubungan antara Mbappé dan Arbeloa akan menjadi sorotan utama. Jika pernyataan sang pelatih bahwa ia "tidak tahu harus mengatakan apa" adalah sinyal lemahnya komunikasi di ruang ganti, maka masalah ini lebih dalam dari sekadar status starting XI. Mbappé sendiri mengatakan bahwa ia "dengan mudah dapat membalikkan situasi ini" dan berjanji untuk terus bekerja keras. Namun, fakta bahwa Madrid belum memenangkan trofi besar sejak kedatangannya dua musim lalu—ditambah dengan pekan yang penuh kekacauan ini—menimbulkan pertanyaan: apakah proyek Arbeloa masih memiliki ruang bagi megabintang Prancis itu? Atau justru Madrid akan mencoba melepasnya di bursa transfer berikutnya untuk membiayai perombakan besar-besaran? Bagi investor dan analis industri sepak bola, ini adalah studi kasus tentang bagaimana tekanan ekspektasi yang sangat tinggi dapat menghancurkan harmoni tim—terlepas dari kualitas individu pemain. Yang pasti, El Real sedang tidak baik-baik saja.
"Saya tidak memiliki empat striker, dan saya tidak mengatakan hal seperti itu kepada Mbappé. Dia mungkin salah memahami saya. Saya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Saya tidak akan mengatakan kepadanya bahwa dia adalah striker pilihan keempat." — Álvaro Arbeloa, pelatih Real Madrid, membantah klaim Mbappé.



