Ratusan Warga Skotlandia Bergabung dalam Gugatan Hukum Arnold Clark Usai Kebocoran Data Pribadi
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 7.000 pelanggan Arnold Clark kini menuntut perusahaan atas kebocoran data sensitif ke dark web akibat serangan siber tahun 2022.
- Pengadilan Sesi Skotlandia memenangkan hak konsumen untuk menggugat di pengadilan lokal, menepis upaya Arnold Clark untuk memindahkan yurisdiksi kasus.
- Meskipun perusahaan membantah liabilitas, mereka terancam tuntutan ganti rugi besar, serupa dengan kasus data yang juga menimpa perusahaan besar lainnya seperti Marks & Spencer (M&S).

Ratusan penggugat baru dari Skotlandia telah bergabung dalam aksi hukum melawan diler mobil raksasa, Arnold Clark, terkait serangan siber tahun 2022. Insiden tersebut mengakibatkan ribuan detail identitas dan data finansial pelanggan yang sangat sensitif dicuri dan dipublikasikan di dark web.
Poin Utama Gugatan Arnold Clark:
- Keputusan Pengadilan: Court of Session (Pengadilan Sesi) memutuskan bahwa klaim dapat diproses di pengadilan Skotlandia, menolak argumen perusahaan bahwa kasus tersebut tidak dapat digugat di sana.
- Jumlah Korban: Sekitar 7.000 korban kini diwakili oleh firma hukum Thompsons Scotland, dengan 500 klien baru bergabung minggu lalu.
- Dampak Data: Serangan tahun 2022 membocorkan alamat rumah, tanggal lahir, nomor telepon, hingga riwayat pemesanan pelanggan dan staf.
Kemenangan Hukum Bagi Konsumen Skotlandia
Arnold Clark, yang berkantor pusat di Glasgow, sebelumnya mencoba berargumen bahwa kasus ini tidak dapat dikejar di pengadilan Skotlandia. Namun, hakim menyimpulkan bahwa karena kendaraan dijual di wilayah utara perbatasan (Skotlandia), maka klaim tersebut sah dilakukan di sana tanpa keterlibatan hukum Inggris.
| Pihak Terkait | Tanggapan / Status |
|---|---|
| Thompsons Scotland (Pengacara) | Menyambut baik keputusan pengadilan dan sedang bergerak cepat menuju proses kelompok (group proceedings) penuh. |
| Juru Bicara Arnold Clark | Membantah segala kewajiban hukum (liabilitas) dan menyatakan akan terus membela diri secara gigih di pengadilan. |
| Konteks Industri | Kasus serupa juga dihadapi oleh raksasa ritel M&S yang diperkirakan bisa menelan biaya kompensasi hingga Β£100 juta. |
"Sangat disambut baik bahwa upaya terang-terangan oleh Arnold Clark untuk mengakali hukum Skotlandia dan menyangkal hak-hak konsumen di sini telah digagalkan. Kami sekarang mewakili sekitar 7.000 korban kejahatan siber ini," ungkap Patrick McGuire, mitra senior di Thompsons Scotland.
Arnold Clark mengklaim telah mengambil tindakan tegas saat insiden terjadi, termasuk mematikan sistem TI, memberi tahu otoritas terkait, dan bekerja sama dengan Experian untuk menyediakan layanan perlindungan data bagi pelanggan yang terdampak. Meski demikian, proses hukum tetap berjalan untuk menentukan apakah perusahaan gagal dalam menjaga keamanan data pribadi tersebut.



