Ulasan TIME Magazine menyingkap paradoks besar di Timur Tengah pekan ini. Di saat Presiden Trump memproyeksikan rasa percaya diri tinggi di Islamabad mengenai dialog dengan Iran (tanpa perlu backup plan), Israel justru meningkatkan agresi militernya di Lebanon. Ketidaksesuaian narasi antara Washington dan Yerusalem ini menciptakan ketegangan diplomatik yang nyata.
Serangan "Operation Eternal Darkness" yang diluncurkan pada 8 April 2026, menargetkan pusat komando Hezbollah di Beirut, adalah bukti bahwa Israel tidak ingin Lebanon menjadi "titik buta" dalam kesepakatan regional apa pun. Bagi Israel, Hezbollah tetaplah ancaman eksistensial yang harus dinetralkan sebelum dialog politik dimulai. Namun, bagi Lebanon dan Iran, serangan ini adalah sabotase terhadap proses perdamaian yang sedang dirintis.
⢠Pengecualian Gencatan Senjata: Israel mengeklaim Lebanon bukan bagian dari kesepakatan dua minggu AS-Iran.
⢠Target Strategis: Penghancuran kemampuan rudal presisi dan drone Hezbollah yang disokong Teheran.
⢠Dampak Pengungsian: 1,1 juta orang terlantar, memicu krisis pengungsi baru di Mediterania Timur.
⢠Pesan Utama: "Di Timur Tengah, perdamaian di satu front sering kali dibayar dengan peperangan di front lainnya."




