Hampir sepekan pasca pecahnya perang antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Iran, blok BRICS menghadapi ujian kohesi terbesar sejak ekspansinya tahun 2024. Meskipun Teheran merupakan anggota resmi, organisasi yang kini diketuai oleh India ini menunjukkan respons yang sangat kontras dibandingkan dengan reaksi cepat mereka pada konflik serupa Juni tahun lalu. Keheningan kolektif ini menyoroti adanya perpecahan internal di mana kepentingan nasional masing-masing anggota kini mulai melampaui solidaritas blok.
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, India memilih jalur diplomasi netral yang ambigu. Berbeda dengan Rusia, China, dan Afrika Selatan yang secara vokal mengutuk asasinasi Ayatollah Ali Khamenei dan pelanggaran kedaulatan Iran, New Delhi hanya menyerukan "penghentian konflik segera". Pergeseran ini terjadi tepat setelah kunjungan kenegaraan Modi ke Israel pada akhir Februari, di mana ia menegaskan dukungan teguh bagi Tel Aviv dan menandatangani pakta strategi pertahanan serta kecerdasan buatan (AI).
Data Kunci Dinamika BRICS (2026):
- Korban Jiwa: Lebih dari 1.230 orang tewas dalam 6 hari pertama "Operation Epic Fury".
- Pivot Perdagangan India: Tarif impor AS ke India turun dari 50% ke 18% setelah kesepakatan penghentian pembelian minyak Rusia oleh New Delhi.
- Dukungan Militer: Rusia memasok senjata ke Iran namun menolak intervensi langsung; China menentang serangan namun hanya fokus pada mediasi ekonomi.
- Absensi Keamanan: India menarik diri dari latihan militer gabungan BRICS di Afrika Selatan (Januari 2026) demi menjaga hubungan dengan Washington.
Sikap India dinilai sangat dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri "Amerika Pertama" yang diusung Donald Trump. Setelah sempat dihantam tarif impor tinggi pada 2025, India berhasil melunakkan posisi Washington dengan menyetujui transisi pembelian energi dari Rusia ke minyak AS. Ketergantungan ekonomi ini menciptakan asimetri dalam kebijakan luar negeri India, yang pada gilirannya melumpuhkan suara kolektif BRICS sebagai penyeimbang kekuatan G7.
| Anggota BRICS | Posisi Terhadap Serangan Iran | Motivasi Strategis |
|---|---|---|
| Rusia & China | Mengecam keras (Pelanggaran Hukum Int.) | Menantang hegemoni AS & mengamankan jalur energi. |
| Afrika Selatan | Mengutuk & Menawarkan Mediasi | Menjaga prinsip anti-apartheid & kedaulatan Global South. |
| India | Hati-hati (Hanya menyerukan dialog) | Menjaga kesepakatan tarif AS & ekspor senjata Israel. |
Secara *forward-looking*, masa depan BRICS kini berada di titik nadir. Jika aliansi ini gagal mencapai konsensus terkait perlindungan terhadap anggotanya sendiri (Iran), efektivitas BRICS sebagai blok keamanan akan terdegradasi menjadi sekadar forum diskusi ekonomi. Sebaliknya, pivot India ke arah AS-Israel dapat menciptakan preseden di mana aliansi strategis bilateral akan selalu mengalahkan komitmen multilateral, sebuah skenario yang sangat menguntungkan strategi isolasi Washington terhadap pengaruh Rusia dan China di kawasan tersebut.




