Kontroversi Propaganda Perang: Eks Dev Infinity Ward Ungkap Tekanan Activision untuk Garap Game Konflik Iran-Israel
Baca dalam 60 detik
- Eks pengembang orisinal Infinity Ward mengungkap bahwa Activision pernah menekan mereka untuk membuat game Call of Duty bertema serangan Iran ke Israel, namun ditolak oleh tim.
- Kontroversi memuncak setelah Gedung Putih merilis video operasi militer nyata dengan gaya editing dan aset visual yang diambil langsung dari game Call of Duty.
- Isu ini memicu kekhawatiran mengenai "gamifikasi" perang nyata dan keterlibatan agenda politik dalam arah kreatif industri video game global.

Kontroversi Propaganda Perang: Eks Dev Infinity Ward Ungkap Tekanan Activision untuk Garap Game Konflik Iran-Israel
Dunia industri game dikejutkan oleh pengakuan berani dari Chance Glasco, salah satu pendiri orisinal Infinity Ward. Melalui diskusi di media sosial yang diliput oleh PCGamesN, Glasco mengungkap adanya tekanan etis yang "aneh" dari pihak Activision di masa lalu untuk memproduksi seri Call of Duty dengan narasi spesifik mengenai serangan Iran terhadap Israel.
Pengakuan ini muncul sebagai respons terhadap video propaganda militer terbaru dari Gedung Putih (The White House) yang secara aneh menggabungkan cuplikan asli serangan udara "Operation Epic Fury" dengan elemen visual dari Call of Duty: Modern Warfare 3. Glasco menyebut bahwa mayoritas pengembang saat itu merasa jijik dengan gagasan tersebut dan secara kolektif menolak untuk merealisasikan konten yang dianggap terlalu provokatif dan bermuatan politik tajam.
šØ POIN KRUSIAL KONTROVERSI:
Fenomena penggabungan konten hiburan dengan retorika militer nyata ini memicu perdebatan luas di komunitas global mengenai "gamifikasi" perang. Para kritikus berpendapat bahwa penggunaan estetika Call of Duty oleh otoritas negara dapat mengaburkan realitas kekerasan perang yang sesungguhnya, menjadikannya seolah-olah hanya sebuah permainan di mata publik muda yang akrab dengan budaya pop.
Ke depan, integritas narasi dalam game bergenre militer diproyeksikan akan berada di bawah pengawasan yang lebih ketat. Dengan terungkapnya tekanan dari penerbit besar seperti Activision, publik kini mulai mempertanyakan sejauh mana industri hiburan interaktif telah dipengaruhi oleh agenda geopolitik tertentu. Kasus ini menjadi pengingat tegas bahwa di balik grafis memukau, terdapat garis tipis antara kreativitas artistik dan instrumen propaganda yang berbahaya.
Senior Editor & Strategic Analyst ⢠p3mbelahlaut



