Kudus Jadi Sorotan: Sentuhan Lebih Sedikit dari Kiper, Spurs Tumbang di Elland Road
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur gagal meraih poin penuh setelah takluk dari Leeds United, dengan Mohammed Kudus tampil di bawah performa.
- Kudus hanya mencatat 47 sentuhan, lebih rendah dari kiper Antonin Kinsky (55), dan kalah dalam 10 dari 13 duel.
- Kekalahan ini menjadi pukulan bagi ambisi Spurs menembus kompetisi Eropa, memaksa De Zerbi mengevaluasi lini serang.

Harapan Tottenham Hotspur untuk melanjutkan tren positif di Liga Premier terhenti setelah Leeds United menang di Elland Road. Gol tunggal Noah Okafor, hasil kerja sama dengan Harry Wilson, memastikan kekalahan Spurs dan mengungkap kelemahan lini serang yang selama ini tertutup oleh hasil-hasil sebelumnya.
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Tottenham hanya mampu menciptakan 0,56 expected goals (xG) di babak kedua, angka yang menggambarkan tumpulnya penyelesaian akhir. Leeds terus menekan dan nyaris menggandakan keunggulan, sementara Spurs kesulitan menguasai ritme permainan.
Keputusan VAR yang tidak mengeluarkan kartu merah untuk Jayden Bogle atas tekel tinggi terhadap Mathys Tel menambah derita tim tamu. Tel harus ditarik keluar, dan meski Dominic Solanke masuk menggantikan, ia tak mampu menembus rapatnya pertahanan Leeds. Namun, fokus utama bukan pada kontroversi wasit, melainkan pada performa individu pemain.
Mohammed Kudus menjadi sorotan setelah penampilan minim kontribusi. Pemain asal Ghana itu kehilangan bola 2,7 kali per sentuhan dan hanya menciptakan satu peluang sebelum digantikan Luca Williams-Barnett. Angka-angka ini menegaskan bahwa Kudus belum menemukan performa terbaiknya sejak bergabung, apalagi setelah musim debutnya terganggu cedera.
"Kudus memang salah satu penyerang paling berbakat di Tottenham, tetapi ia bukan pilihan utama yang tak tergantikan di sayap kanan," catat analisis Football FanCast, mengutip performa pemain 26 tahun tersebut.
Pelatih Roberto De Zerbi dihadapkan pada dilema. Di satu sisi, Kudus memiliki kualitas untuk menjadi pembeda; di sisi lain, kontribusinya saat ini jauh dari cukup. Dejan Kulusevski dan Williams-Barnett, yang tampil impresif sebagai pengganti, memberikan tekanan langsung untuk merebut posisi. Savio, yang hampir pulih dari cedera, juga siap menambah persaingan.
Kekalahan ini juga memperlihatkan masalah struktural: Tottenham terlalu bergantung pada permainan individu. Dengan hanya 10 gol dalam 10 pertandingan, lini serang Spurs tertinggal jauh dari standar kompetisi Eropa. De Zerbi dituntut untuk segera melakukan perombakan, terutama dalam hal kontrol permainan di fase menyerang.
Bagi penggemar di Indonesia, performa Kudus menjadi perhatian tersendiri. Sebagai salah satu pemain Afrika paling menonjol di Liga Premier, penurunan performanya bisa memengaruhi persepsi tentang adaptasi pemain non-Eropa di klub besar. Namun, sepak bola Indonesia juga memiliki tantangan serupa dalam mengelola ekspektasi terhadap pemain bintang yang bergabung dengan klub top.
Ke depan, De Zerbi harus memutuskan apakah Kudus tetap menjadi pilihan utama atau diistirahatkan untuk memberi ruang bagi pemain yang lebih haus. Dengan jadwal internasional yang akan datang, jeda bisa menjadi momen evaluasi. Pertanyaannya, apakah Spurs akan kembali ke jalur kemenangan atau justru semakin terpuruk jika masalah lini serang tak segera diatasi?



