Wall Street Cemas: Jika Demokrat Kuasai Kongres, Saham Bisa Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Pasar saham AS belum sepenuhnya memperhitungkan skenario kemenangan besar Partai Demokrat di Kongres, yang diperkirakan menekan indeks S&P 500 hingga 0,5% pada hari perdagangan berikutnya.
- Kemenangan Demokrat berpotensi memperkuat tekanan pada sektor teknologi, terutama saham yang terkait pusat data, akibat kekhawatiran pembatasan nasional.
- Meski secara historis pasca-pemilu paruh waktu pasar cenderung menguat, kenaikan tajam S&P 500 tahun ini membuat sebagian analis meragukan pola tersebut berulang.

Pelaku pasar saham Amerika Serikat dinilai belum sepenuhnya mengantisipasi kemungkinan Partai Demokrat menyapu bersih kursi DPR dan Senat pada pemilu paruh waktu. Sejumlah analis dan investor memperkirakan skenario blue wave itu dapat menekan harga saham pada hari perdagangan setelah pemungutan suara, Rabu (4/11/2026), meski dampaknya mungkin bersifat jangka pendek.
Jajak pendapat menunjukkan Demokrat berpeluang besar merebut DPR, sementara Senat masih terlalu ketat untuk diprediksi. Pasar prediksi justru lebih optimistis terhadap Demokrat. Namun, survei Wolfe Research terhadap lebih dari 100 investor institusi mengungkapkan bahwa posisi portofolio mereka belum mencerminkan ekspektasi kemenangan Demokrat secara penuh. Kepala strategi politik AS Wolfe Research, Tobin Marcus, menyatakan para investor masih skeptis terhadap akurasi survei yang ada.
JPMorgan memperkirakan kemenangan Demokrat akan menurunkan indeks S&P 500 sekitar 0,5% pada Rabu. Sebaliknya, jika Partai Republik mampu mempertahankan kedua kamar, pasar berpotensi menguat. Analis Citigroup menilai skenario Republik kehilangan DPR tetapi tetap menguasai Senat bisa menjadi pendorong bagi saham hingga akhir tahun. Sementara itu, trader JPMorgan memproyeksikan kenaikan hingga 1% jika Republik bertahan di Senat.
Di luar pergerakan jangka pendek, pola historis menunjukkan pasar saham cenderung menguat setelah pemilu paruh waktu. Namun, kenaikan indeks S&P 500 yang sudah mencapai dua digit sepanjang 2026 menimbulkan kekhawatiran bahwa investor terlalu percaya diri. Kepala teknisi pasar BTIG, Jonathan Krinsky, mencatat bahwa pada tahun-tahun pemilu paruh waktu, S&P 500 biasanya mengalami penurunan hingga 14% pada suatu titik di paruh kedua tahun. "Alasan saham sering menguat pada November selama pemilu paruh waktu adalah karena indeks biasanya melemah menjelang pemilu. Tahun ini kondisinya terbalik," ujarnya, seperti dikutip CNBC. Ia justru memperkirakan pasar tidak akan menguat pasca-pemilu seperti pola biasanya.
Tekanan tambahan datang dari sektor kecerdasan buatan (AI) yang sedang goyah. Indeks Nasdaq Composite mencatat hari terburuk sejak Juni pada Jumat lalu, dan saham-saham AI kembali memimpin pelemahan pada Senin. Kemenangan Demokrat yang signifikan dapat memperburuk sentimen terhadap perdagangan AI, terutama karena partai tersebut cenderung mendukung pembatasan pusat data. Analis Washington Analysis, Rob Rains, menilai kemenangan Demokrat akan memperkuat tanda-tanda kehati-hatian yang sudah muncul di berbagai negara bagian terkait pengembangan infrastruktur AI. Goldman Sachs memperkirakan Kongres di bawah Demokrat mungkin membatasi insentif pajak untuk pusat data, tetapi moratorium nasional dinilai tidak mungkin terjadi dalam hasil pemilu apa pun.
Di tingkat negara bagian, Texas menjadi sorotan karena merupakan pusat pembangunan pusat data. Kekalahan mengejutkan Gubernur Greg Abbott dari Partai Republik di Texas berpotensi mengejutkan pasar dalam jangka pendek, kata Marcus dari Wolfe Research. Sementara itu, sektor pertahanan bisa tertekan oleh kekhawatiran pembatasan belanja, sedangkan sektor kesehatan justru diuntungkan karena Demokrat akan mendorong pemulihan subsidi asuransi kesehatan yang telah berakhir. Analis Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengamati saham rumah sakit seperti HCA Healthcare dan Tenet Healthcare, serta perusahaan asuransi kesehatan seperti UnitedHealth dan Centene, sebagai yang diuntungkan.
Di sisi lain, sektor keuangan mungkin menghadapi ketidakpastian jika Demokrat berkuasa. Demokrat disebut ingin menunjukkan kemajuan nyata dalam isu keterjangkauan, yang berarti menyasar sektor-sektor yang menjadi pusat anggaran konsumen. Analis Evercore ISI, Matthew Aks, tidak menutup kemungkinan Demokrat mendorong pembatasan suku bunga kartu kredit dan mencari dukungan Presiden Trump, yang memiliki kecenderungan populis. "Jika Demokrat menguasai satu atau kedua kamar, mereka akan mencoba meloloskan kebijakan itu dan melihat apakah Trump menandatanganinya atau memvetonya, yang akan menjadi poin politik bagi Demokrat," ujarnya.
Faktor lain yang bisa mengubah dinamika pasar adalah ketegangan dengan Iran. Jika Trump memutuskan untuk meningkatkan konfrontasi militer setelah pemilu, harga minyak bisa melonjak dan mengancam reli akhir tahun. Evercore ISI memperkirakan S&P 500 dapat turun hingga 6.800 pada akhir tahun jika eskalasi terjadi sebelum Kongres baru dilantik pada Januari. Harga bensin yang sudah tinggi menjelang libur Thanksgiving menambah kekhawatiran akan dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat.
Bagi Indonesia, gejolak politik dan pasar keuangan AS merupakan faktor eksternal yang perlu dicermati. Sebagai negara dengan keterbukaan ekonomi tinggi, pergerakan dolar AS dan arus modal global akan memengaruhi stabilitas rupiah dan pasar saham domestik. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan perlu mengantisipasi potensi volatilitas jika hasil pemilu AS memicu koreksi di pasar global. Investor dalam negeri pun disarankan tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi jangka pendek, tetapi tetap fokus pada fundamental ekonomi nasional yang relatif terjaga.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pasar akan kembali pada pola historis pasca-pemilu yang cenderung positif, atau justru terjerembab karena kombinasi kenaikan tajam sebelumnya, gejolak sektor AI, dan ketegangan geopolitik. Semua mata kini tertuju pada hasil akhir penghitungan suara dan sinyal kebijakan dari Gedung Putih.



