Final Fantasy 14: Evercold Janji Perbaiki Pacing, Yoshi-P Akui Dawntrail Terlalu Bertele-tele
Baca dalam 60 detik
- Square Enix memastikan Evercold, ekspansi baru FFXIV, akan rilis 23 Februari 2027, mundur dari jendela Januari.
- Direktur Naoki Yoshida mengakui Dawntrail terlalu banyak menghabiskan waktu untuk world-building di main quest, sehingga Evercold akan memindahkan elemen tersebut ke side quest.
- Perubahan ini menuai kekhawatiran overcorrect, karena kedalaman cerita adalah daya tarik utama FFXIV.

Square Enix akhirnya mengumumkan tanggal rilis ekspansi terbaru Final Fantasy 14, Evercold, pada Tokyo Fan Fest akhir pekan lalu. Game ini akan meluncur pada 23 Februari 2027, sedikit mundur dari perkiraan awal Januari. Pengumuman itu disertai komitmen sutradara Naoki Yoshida—akrab disapa Yoshi-P—untuk memperbaiki salah satu kritik terbesar terhadap ekspansi sebelumnya, Dawntrail: tempo cerita yang dinilai bertele-tele.
Dawntrail, yang dirilis pada 2024, memang menjadi bagian pembuka arc baru MMORPG tersebut. Meski tidak sepenuhnya buruk, banyak pemain mengeluhkan alur utama yang terlalu lama berhenti pada pengenalan wilayah dan budaya baru. Alih-alih menjaga momentum, quest utama justru seperti dipaksa menjelajahi terlalu banyak detail dunia. Yoshida pun mengakui hal itu. Dalam wawancara bersama tim moderator subreddit FFXIV, ia menyatakan bahwa timnya kini memberikan perhatian serius pada "sense of tempo" untuk Evercold.
Solusi yang diambil cukup tegas: sejumlah elemen world-building yang sebelumnya memenuhi main scenario quest akan dipindahkan ke side quest. Dengan begitu, pemain yang ingin tetap maju dalam cerita utama bisa melakukannya tanpa terhambat, sementara mereka yang ingin menyelami latar belakang dunia bisa menikmatinya sesuai kecepatan sendiri. Menurut Yoshida, pendekatan ini juga sejalan dengan keinginan tim untuk lebih menghargai waktu pemain.
Namun, keputusan ini tidak lepas dari risiko. Final Fantasy 14 dikenal luas karena narasinya yang mendalam dan lambat terbangun. Banyak momen ikonik justru lahir dari quest-quest panjang yang membangun hubungan emosional dengan dunia dan karakternya. Jika Square Enix terlalu agresif memangkas elemen tersebut, ada kekhawatiran mereka akan kehilangan "saus rahasia" yang membuat FFXIV istimewa. Yoshida sendiri tampaknya sadar akan hal ini, tetapi ia menekankan bahwa keseimbangan baru perlu diuji.
Menjelang rilis Evercold, Yoshida juga menyarankan pemain untuk menyegarkan ingatan tentang konsep shard dan asal-usul perpecahan alam semesta. Sayangnya, ia tidak merinci quest line spesifik yang harus diulang. Saran itu terbilang umum, mengingat elemen tersebut tersebar di sepanjang Shadowbringers, Endwalker, bahkan sebagian Heavensward. Bagi pemain baru atau yang sudah lama tidak menyentuh game, ini bisa menjadi tugas yang membingungkan.
Secara garis besar, semesta Final Fantasy 14 awalnya adalah satu dunia utuh. Pertarungan antara Hydaelyn dan Zodiark—dua entitas yang dianggap dewa—memecahnya menjadi empat belas shard. Warrior of Light telah lama berurusan dengan Zodiark dan misteri dunia asli, dan dalam Evercold ia akan kembali mengunjungi dunia alternatif lain dengan problematikanya sendiri. Ini menandakan bahwa ekspansi baru masih akan mempertahankan skala epik yang menjadi ciri khas serial.
Bagi pasar Indonesia, perubahan ini bisa menjadi sinyal bahwa Square Enix semakin sadar akan pentingnya pengalaman pemain yang efisien. Di tengah persaingan game live-service yang semakin ketat, menghargai waktu pemain menjadi nilai jual. Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa efisiensi tidak mengorbankan kedalaman cerita yang selama ini menjadi magnet setia FFXIV. Jika berhasil, Evercold bisa menjadi cetak biru untuk ekspansi MMORPG di masa depan. Jika gagal, ia berisiko kehilangan identitasnya. Akankah Yoshida dan timnya menemukan titik tengah yang tepat?



