Hamilton Murka: Leclerc 'Do or Die' Bikin Ferrari Kehilangan Kemenangan di Meksiko
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menuduh Charles Leclerc mengorbankan peluang kemenangan Ferrari di GP Meksiko lewat manuver agresif yang berujung penalti.
- Insiden di Tikungan 4 memicu kemarahan Hamilton karena Leclerc memaksa posisi hingga memotong tikungan dan merusak strategi tim.
- Ketegangan internal Ferrari memuncak, memunculkan pertanyaan tentang aturan tim dan masa depan kerja sama kedua pembalap.

Kemenangan yang seharusnya mudah diraih Ferrari di Grand Prix Meksiko berubah menjadi bencana setelah Charles Leclerc melakukan manuver nekat terhadap rekan setimnya, Lewis Hamilton, pada lap pertama. Insiden tersebut tidak hanya merusak peluang Ferrari meraih hasil satu-dua, tetapi juga memicu kemarahan publik dari juara dunia tujuh kali itu, yang menuduh Leclerc mengedepankan ambisi pribadi di atas kepentingan tim.
Hamilton, yang start dari posisi pole di Autodromo Hermanos Rodriguez, sudah berada di depan dan mengendalikan laju balapan. Leclerc, yang memulai dari posisi ketiga, mencoba menyalip di sisi luar Tikungan 1 dan 2, namun gagal dan melebar. Upayanya berlanjut di Tikungan 4, di mana ia kembali menyerang Hamilton. Namun, ruang menyempit dan Leclerc memilih memotong Tikungan 5 untuk mengambil alih posisi terdepan. Aksi itu berbuah penalti lima detik, tetapi dampaknya lebih luas: Hamilton kehilangan momentum dan disalip Max Verstappen yang kemudian memenangi balapan.
Kemarahan Hamilton bukan tanpa alasan. Ia menyoroti pola perilaku Leclerc yang kerap terlibat pertarungan internal sengit, bahkan sejak era Carlos Sainz di Ferrari. "Saat di Mercedes, saya menyaksikan bagaimana Charles dan Carlos saling serang hingga pembalap di depan justru menjauh. Padahal mereka punya kecepatan untuk menang," ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa konteksnya kini berbeda: memperebutkan posisi pertama dan kedua jauh lebih krusial daripada sekadar bersaing di urutan keempat atau kelima. "Ini soal mentalitas. Bukan usia. Dia 28 tahun. Mentalitas 'do or die'โmenang atau tidak sama sekaliโtidak seharusnya begitu. Seharusnya kita meraih satu-dua," tegas Hamilton.
"Ketika rekan setim Anda bekerja melawan Anda dan Anda kehilangan posisi seperti itu, ini benar-benar sulit. Kami tidak punya aturan keterlibatan, dan apakah itu akan berubah dari sisi Charles, saya tidak tahu. Yang pasti, sesuatu harus berubah."
โ Lewis Hamilton, pembalap Ferrari
Leclerc, melalui wawancara dengan Sky Sports, membela tindakannya. Ia beralih bahwa saat ada celah dan sedang memperebutkan kemenangan, ia akan selalu mengambil risiko. Namun, bagi Hamilton, pembelaan itu tidak cukup. Ia mengaku terbelah antara kebahagiaan atas gelar juara dunia yang baru diraih Antonelli dan kekecewaan mendalam karena kehilangan poin berharga. "Kami bekerja keras sebagai tim. Kami bisa saja meraih satu-dua hari ini. Kami punya kecepatan. Memasuki Tikungan 4 kami di posisi pertama dan kedua. Jika kami bertahan, apa pun bisa terjadi. Tapi ketika rekan setim Anda melawan Anda, itu berat," tuturnya.
Ketegangan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, di Zandvoort, Hamilton mengkritik kurangnya team order yang membuatnya tertahan. Di Monza, ia kehilangan posisi setelah dipaksa keluar lintasan di Tikungan 2, yang kemudian diakui Leclerc sebagai kesalahannya. Hamilton pun menilai perlu ada "pembicaraan serius" untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, ia ragu apakah diskusi akan membuahkan hasil. "Saya tidak yakin bagaimana saya ingin terlibat. Frustrasi hari ini nyata. Kami akan membicarakannya secara offline, tapi tidak banyak yang bisa dikatakan lagi. Sesuatu harus berubah," ujarnya.
Bagi Ferrari, insiden ini menjadi pukulan telak di tengah musim yang mengecewakan. Tim asal Maranello itu kembali gagal meraih gelar dunia dan tertinggal jauh dari Mercedes. Hamilton menyadari bahwa keputusannya untuk bergabung dengan Ferrari membawa ekspektasi besar, termasuk dari staf di pabrik. Ia pun menyoroti peran kepala tim Fred Vasseur yang dinilainya telah berusaha maksimal, bahkan sempat berbicara dengannya sebelum balapan karena gugup. "Fred melakukan yang terbaik. Dia ingin kedua pembalapnya tampil baik. Tapi dari sisi saya, jika saya berada di belakang dan mengambil semua risiko lalu tim kalah, saya harus bertanggung jawab. Sebaliknya, ketika saya memimpin, tindakan itu tidak perlu," jelasnya.
Pertanyaan besar kini menghantui Ferrari: apakah hubungan Hamilton dan Leclerc masih bisa diperbaiki, ataukah tensi ini akan terus mengganggu performa tim di sisa musim? Dengan aturan tim yang belum jelas dan Leclerc yang bersikeras pada prinsip balapan agresif, masa depan kerja sama mereka di lintasan menjadi taruhan. Jika tidak segera diatasi, potensi konflik terbuka bisa merusak peluang Ferrari untuk bangkit pada musim depan.



