Sejarah Bursa AS: Pasca-Pemilu Midterm, S&P 500 Nyaris Tak Pernah Kehilangan Momentum
Baca dalam 60 detik
- Sejak 1982 hingga 2022, indeks S&P 500 selalu membukukan kenaikan setahun setelah pemilu sela, dengan rata-rata penguatan 13,7 persen.
- Pasar saham Amerika justru lebih menyukai pemerintahan terbelah karena kebijakan fiskal yang ekstrem lebih sulit terwujud.
- Dominasi isu kecerdasan buatan, arah suku bunga The Fed, dan ketegangan geopolitik diprediksi tetap menjadi penentu utama arah bursa, bukan hasil pemilu semata.

Indeks S&P 500 mencatat rekor sempurna: dalam sebelas pemilu sela yang berlangsung dari 1982 sampai 2022, indeks ini selalu berakhir lebih tinggi setahun setelah hari pencoblosan. Rata-rata kenaikannya mencapai 13,7 persen, nyaris menyamai lonjakan 13,8 persen yang terjadi setelah pemilu presiden pada periode yang sama. Fakta ini menjadi oase di tengah kecemasan pasar menjelang pemilu sela 2026, yang hasilnya bisa mengubah komposisi Kongres dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Meski demikian, jangan berharap lonjakan instan. Analisis data historis menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, reaksi pasar terhadap hasil pemilu presiden justru sering kali negatif tipis, baik pada hari pertama maupun sepekan setelahnya. Baru setelah satu bulan, indeks bergerak positif dengan rata-rata 0,2 persen. Pola ini menggarisbawahi bahwa euforia sesaat bukanlah karakter pasar yang sebenarnya; investor lebih mencerna implikasi kebijakan dalam hitungan pekan hingga bulan.
Yang menarik, pasar saham Amerika secara historis lebih menyukai kebuntuan politik. Ketika tidak ada satu partai pun yang menguasai Gedung Putih dan kedua kamar Kongres, S&P 500 rata-rata menguat 15 persen dalam setahun, dengan 14 dari 15 kasus membuahkan hasil positif. Sebaliknya, ketika satu partai menguasai penuh, kenaikannya hanya 11,5 persen. Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group, menilai bahwa gelombang kemenangan besar satu partai justru memicu kekhawatiran karena membuka jalan bagi belanja pemerintah yang berlebihan dan konsentrasi kekuasaan.
Kombinasi Demokrat menguasai Kongres dan Republik di Gedung Putih—skenario yang mungkin muncul dari pemilu tahun ini—juga tidak serta-merta menakutkan. Data dari tiga pemilu sela sebelumnya (1986, 1990, 2006) menunjukkan pola serupa: indeks sempat turun 0,5 persen pada hari reaksi, tetapi naik 3,4 persen sebulan kemudian dan 10,9 persen setahun setelahnya. Namun, sejarah juga mencatat pengecualian pahit. Setelah pemilu 2000, S&P 500 merosot 22,1 persen akibat ledakan gelembung dotcom, sementara pasca-pemilu 2020 justru menjadi tahun terbaik dengan kenaikan 38,3 persen berkat pemulihan ekonomi dari pandemi.
Société Générale mengingatkan bahwa kebijakan The Fed dan siklus laba korporasi tetap menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibanding hasil pemilu. Contohnya, setelah pemilu sela 2018 ketika Demokrat merebut DPR, pasar tertekan bukan terutama karena politik, melainkan karena The Fed menaikkan suku bunga empat kali pada tahun itu. S&P 500 ditutup melemah 6,2 persen sepanjang 2018, meski setahun setelah pemilu indeks masih mencatat kenaikan 11,7 persen.
"Kegelisahan menjelang pemilu itu wajar. Begitu melewatinya, ada kelegaan besar dan pasar cenderung bergerak positif," ujar Ryan Detrick, seperti dikutip CNBC.
Kini, faktor penggerak utama bukan lagi sekadar politik. Gelombang kecerdasan buatan (AI) dan keberlanjutan kenaikan saham teknologi menjadi penentu arah pasar. Detrick memperkirakan bahwa selama arus AI masih mengalir dan ekonomi terus tumbuh, pasar bullish kemungkinan besar masih bertahan. Namun, jika Demokrat berhasil menyapu bersih kursi DPR dan Senat, tekanan terhadap pembangunan infrastruktur AI bisa meningkat dan memicu koreksi lebih dalam. Pasar obligasi juga sedang gelisah dengan imbal hasil global yang naik dan krisis utang mini di Prancis. Ketegangan dengan Iran pun berpotensi memburuk pasca-pemilu jika Presiden Trump melanjutkan ancaman serangan.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini bukan sekadar tontonan. Pasar keuangan domestik sangat sensitif terhadap arus modal global yang dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga The Fed dan sentimen risiko di Wall Street. Jika sejarah berpihak pada reli pasca-pemilu, aliran dana asing ke negara berkembang termasuk Indonesia berpotensi menguat, meski tetap bergantung pada stabilitas nilai tukar dan kebijakan dalam negeri. Sebaliknya, gejolak di pasar obligasi global dan eskalasi geopolitik dapat menekan rupiah serta memicu capital outflow.
Jim Reid, kepala riset makro dan tematik Deutsche Bank, dalam catatannya menyatakan bahwa faktor musiman bukanlah takdir, dan kekhawatiran seputar Iran, AI, serta Prancis tidak akan hilang begitu saja. Pertanyaannya kini: apakah reli Natal yang sering terjadi pasca-pemilu akan terulang, ataukah pasar AI yang sedang bergejolak, kebijakan The Fed yang ketat, dan tensi geopolitik akan membalikkan narasi sejarah? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, dan investor sebaiknya tidak hanya bersandar pada pola masa lalu.



