Sinayoko Meledak, Paris FC Samai Poin Lyon di Liga Prancis
Baca dalam 60 detik
- Lassine Sinayoko memimpin daftar top skor Ligue 1 dengan delapan gol, mengantar Paris FC ke posisi setara Lyon.
- Penyerang Mali itu terlibat dalam 13 gol musim ini, hanya kalah dari Raphinha, Lamine Yamal, dan Kylian Mbappé di lima liga top Eropa.
- Konsistensi Sinayoko menjadi kunci ambisi Paris FC menembus kompetisi Eropa untuk pertama kalinya.

Lassine Sinayoko mencetak sejarah baru bagi Paris FC. Penyerang asal Mali itu kini memuncaki daftar top skor Ligue 1 McDonald’s dengan delapan gol setelah sembilan pertandingan, sekaligus mengantar klub promosi tersebut menyamai perolehan poin Olympique Lyonnais di peringkat ketiga. Kemenangan kandang ketiga beruntun Paris FC musim ini tak lepas dari kontribusi langsung Sinayoko yang terlibat dalam tiga gol pada laga terakhir.
Catatan tersebut menempatkan Sinayoko sejajar dengan Raphinha (Barcelona) sebagai pemain yang tiga kali terlibat dalam tiga gol atau lebih dalam satu pertandingan di lima liga top Eropa musim ini. Di level domestik, hanya Bradley Barcola (2024/25) dan Joaquín Panichelli (2025/26) yang mampu mencetak delapan gol dalam sembilan laga pembuka Ligue 1 dalam tiga musim terakhir. Sinayoko juga menjadi pemain Afrika pertama yang mencapai torehan serupa sejak George Weah pada 1991/92.
Bagi Paris FC, yang baru promosi ke kasta tertinggi, performa Sinayoko menjadi fondasi kejutan. Klub yang berbasis di ibu kota ini memang berambisi menembus kompetisi Eropa, dan pencapaian saat ini menunjukkan bahwa target tersebut bukan sekadar wacana. Sinayoko bukan hanya pencetak gol, tetapi juga pengumpan ulung dengan lima assist, menjadikannya sebagai salah satu penyerang paling produktif di Eropa saat ini.
“Sinayoko adalah pemain yang selalu haus gol dan terus berkembang. Konsistensinya luar biasa, dan kami beruntung memilikinya,” ujar seorang sumber internal klub yang enggan disebutkan namanya.
Perbandingan dengan para bintang muda seperti Barcola dan Panichelli menegaskan bahwa Sinayoko berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu penyerang terbaik Ligue 1. Namun, tantangan sesungguhnya baru akan datang ketika Paris FC menghadapi jadwal padat dan tekanan dari tim-tim papan atas. Ketergantungan pada satu pemain menjadi risiko yang harus diantisipasi pelatih.
Di sisi lain, pencapaian Sinayoko juga mengingatkan pada jejak George Weah, satu-satunya pemain Afrika yang mampu mencetak delapan gol dalam sembilan laga pembuka Ligue 1 sebelum era modern. Jika mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin Sinayoko akan melampaui rekor tersebut dan menarik perhatian klub-klub besar Eropa.
Pertanyaannya, mampukah Paris FC menjaga momentum dan mengamankan tempat di kompetisi Eropa musim depan? Ataukah Sinayoko akan menjadi buruan klub-klub elite pada bursa transfer berikutnya? Yang jelas, kisah Sinayoko dan Paris FC baru saja dimulai, dan publik sepak bola Prancis akan menantikan kelanjutannya.



