Dortmund Tahan Bayern 2-2, Sinyal Kans Juara Mulai Terlihat
Baca dalam 60 detik
- Borussia Dortmund memaksa Bayern Munich bermain imbang 2-2 dalam Der Klassiker di Allianz Arena, memperlihatkan perlawanan sengit meski sempat dua kali tertinggal.
- Hasil ini mempertegas progres Dortmund di bawah Niko Kovač yang sejak Januari 2025 membangun tim dengan pertahanan solid dan mentalitas pantang menyerah.
- Dengan musim masih panjang, Dortmund setidaknya telah mengirim pesan bahwa mereka adalah kandidat paling serius untuk menghentikan dominasi Bayern meraih gelar ketiga beruntun.

Borussia Dortmund membuktikan diri bukan sekadar pelengkap dalam perburuan gelar Bundesliga. Bermain di markas Bayern Munich pada pekan ke-8, Die Schwarzgelben dua kali tertinggal namun mampu menyamakan kedudukan untuk mengakhiri laga Der Klassiker dengan skor 2-2, Sabtu (18/10/2025) malam WIB. Hasil ini menjaga jarak kedua tim tetap sama, tetapi memberi sinyal bahwa Dortmund kali ini serius menantang takhta Bayern.
Sejak ditunjuk menangani Dortmund pada Januari 2025, Niko Kovač memang dikenal sebagai arsitek tim yang pragmatis dan sulit dikalahkan. Musim lalu, Dortmund finis sebagai runner-up dengan catatan kebobolan paling sedikit di liga. Namun, capaian itu belum cukup untuk menggoyang dominasi Bayern yang keluar sebagai juara. Kini, Kovač menghadapi tuntutan lebih tinggi: membawa Dortmund bersaing langsung dalam perebutan gelar, bukan sekadar menjadi pengejar yang tertinggal jauh.
Pertandingan di Allianz Arena menjadi ujian sesungguhnya. Dortmund sempat tertinggal lebih dulu, tetapi Serhou Guirassy dan Fabio Silva masing-masing mencetak gol penyama. Silva bahkan menjadi penyelamat di menit-menit akhir lewat sepakan kerasnya. Meski keberuntungan sedikit berpihak pada Dortmund—Harry Kane dua kali membentur tiang gawang, termasuk dari titik penalti, dan gol Jobe Bellingham dianulir—semangat juang pasukan Kovač patut diacungi jempol. Mereka tidak gentar menghadapi tekanan tuan rumah.
Bagi Dortmund, raihan satu poin ini terasa istimewa mengingat musim lalu mereka kalah dua kali dari Bayern di ajang Bundesliga dan juga takluk di Piala Super Franz Beckenbauer pada Agustus. Fabio Silva, pencetak gol penyama di menit akhir, mengungkapkan ambisi timnya. "Kami datang ke sini untuk menunjukkan bahwa kami siap bersaing memperebutkan gelar. Kami tidak takut pada tim mana pun. Itulah mentalitas kami. Musim ini kami punya skuad yang mumpuni untuk bersaing di semua kompetisi," ujarnya seperti dikutip dari laman resmi Bundesliga.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kami ada di sini untuk memperjuangkan gelar. Tidak ada rasa takut terhadap tim mana pun. Itu mentalitas kami." — Fabio Silva, penyerang Borussia Dortmund
Pertanyaan yang kemudian muncul: apakah Dortmund sudah cukup matang untuk menggulingkan Bayern? Bundesliga masih panjang, tetapi hasil di Munich setidaknya memberikan indikasi bahwa jika ada tim yang mampu menghentikan laju Bayern menuju gelar ketiga berturut-turut, Dortmund adalah jawabannya. Kovač telah menanamkan disiplin taktik dan ketangguhan mental, dua hal yang kerap hilang dari Dortmund di masa lalu. Dengan skuad yang lebih dalam musim ini, termasuk kehadiran Guirassy dan Silva di lini depan, serta gelandang muda Jobe Bellingham yang mulai menunjukkan kelasnya, Die Schwarzgelben punya modal untuk bersaing hingga akhir musim.
Namun, tantangan sesungguhnya baru akan terlihat dalam konsistensi. Dortmund sering kali tampil gemilang di laga besar, tetapi kehilangan poin di pertandingan yang seharusnya dimenangkan. Kovač perlu memastikan timnya tidak terjebak dalam euforia hasil imbang ini. Sebaliknya, Bayern akan menjadikan laga ini sebagai peringatan bahwa mereka tidak bisa lagi menganggap remeh Dortmund. Persaingan gelar Bundesliga musim ini diprediksi akan lebih sengit, dan duel di Allianz Arena menjadi pembuka yang sempurna.
Dengan 26 pekan tersisa, peluang Dortmund masih terbuka lebar. Jika mampu menjaga konsistensi dan memanfaatkan setiap peluang, bukan tidak mungkin gelar juara kembali ke Signal Iduna Park untuk pertama kalinya sejak 2012. Yang jelas, publik sepak bola Jerman kini punya alasan untuk menantikan persaingan yang lebih menarik di papan atas.



