City Menang di Anfield, Tapi Bayang-Bayang 100+ Dakwaan Masih Menghantui Premier League
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan Manchester City atas Liverpool di Anfield kembali memicu sorakan 'cheat' dari tribun, menandakan krisis legitimasi kompetisi belum usai.
- Sejumlah klub seperti Arsenal, Tottenham, dan Ipswich menunjukkan progres, sementara Everton dan Sunderland bergulat dengan kelemahan taktis.
- Penyelesaian dakwaan terhadap City menjadi kunci untuk memulihkan integritas Premier League, dengan tekanan publik yang kian meningkat.

Kemenangan Manchester City di markas Liverpool, Anfield, pada akhir pekan lalu bukan sekadar tiga poin biasa. Bagi sebagian pengamat, hasil itu justru mempertegas paradoks yang menggerogoti Premier League: sebuah klub yang masih menghadapi lebih dari 100 dakwaan pelanggaran aturan keuangan mampu mendominasi rival-rivalnya di lapangan, sementara proses hukumnya belum juga tuntas.
Gol-gol City yang membungkam The Kop diiringi nyanyian “cheat” dari tribun. Para pemain City, yang diminta tampil di bawah tekanan non-teknis, tampak fokus sepenuhnya pada pertandingan. Namun, di luar lapangan, pertanyaan tentang integritas kompetisi semakin sulit diabaikan. Manajer Enzo Maresca menyebut situasi ini sebagai “kebisingan”, tetapi kemenangan tersebut tidak serta-merta meredam volume kritik.
Di sisi lain, Liverpool yang sedang dalam masa transisi di bawah asuhan Andoni Iraola menunjukkan semangat juang tinggi, meski masih kasar di beberapa lini. Tekanan awal dan peluang bertubi di awal babak kedua sempat membuat City goyah, sebelum kartu merah Ryan Gravenberch mengubah arah pertandingan. Tanpa Alexander Isak dan Cody Gakpo, lini depan Liverpool kehilangan ketajaman, dan para pemain mahal seperti Bradley Barcola serta Florian Wirtz belum mampu memberikan dampak signifikan.
Sementara itu, Arsenal menunjukkan kedalaman skuad yang dipertanyakan. Noni Madueke, yang dipanggil untuk mengisi posisi sayap kiri yang ditinggalkan Christos Tzolis, membuktikan diri dengan menciptakan peluang terbanyak (tiga) dan sentuhan terbanyak di kotak penalti (delapan). “Dia pantas mendapatkan kesempatan dan dia memanfaatkannya,” ujar Mikel Arteta. Namun, keputusan ini juga menyoroti minimnya opsi lini depan setelah hanya mendatangkan Tzolis pada musim panas.
Tottenham Hotspur di bawah Roberto De Zerbi mulai menunjukkan karakter yang diinginkan sang manajer. “Sudah lama Tottenham bermain tanpa darah, tanpa karakter ini, dan saya menginginkannya,” kata De Zerbi. Meski masih jauh dari sempurna, hasil imbang 1-1 di Old Trafford melawan Manchester United yang tampil lesu memberikan harapan. De Zerbi menekankan pentingnya kerja sama tim, baik di lapangan maupun di luar, sebagai kunci perbaikan.
Di London selatan, Crystal Palace meraih kemenangan kedua musim ini meski tidak dalam performa terbaik. Manajer Pierre Sage mengakui keberuntungan dalam kemenangan atas Nottingham Forest, tetapi tetap optimistis menjelang pertemuan dengan Lyon di Liga Europa. “Tidak normal kebobolan begitu banyak peluang,” ujarnya, seraya menekankan perlunya konsistensi.
Everton harus menelan pil pahit setelah dua kesalahan Ainsley Maitland-Niles membuat mereka gagal meraih kemenangan tandang pertama sejak Februari. Kesalahan antisipasi dan posisi yang buruk berujung pada gol Hull City, dan Everton yang minim opsi serang tidak mampu memaksimalkan dua golnya.
Di Villa Park, Unai Emery masih mencari kemenangan kandang pertama musim ini. Renovasi Stadion Villa Park yang menyisakan tiga sisi tribun diyakini memengaruhi atmosfer. “Saya benci bermain di stadion seperti itu,” kata pelatih Brentford, Keith Andrews. Meski demikian, Emery tetap percaya pada nilai benteng kandang.
Ipswich Town di bawah Gary O’Neil menunjukkan ketangguhan yang sempat hilang. Meski lini belakang masih bocor, semangat juang tim—tercermin dari tiga gol kemenangan setelah menit ke-90—menjadi modal berharga untuk bertahan di Premier League.
Sunderland menghadapi masalah di sayap kanan setelah gagal merekrut pemain spesialis. Pelatih Régis Le Bris terpaksa menurunkan dua bek kanan alami, dan cedera Thomas Meunier memperburuk keadaan. Dengan hanya empat poin dari enam laga, tekanan semakin besar menjelang lawatan ke Bournemouth dan Lech Poznan.
Pertanyaannya kini: akankah Premier League bergerak cepat menyelesaikan kasus Manchester City sebelum kredibilitas kompetisi semakin terkikis? Ataukah kita akan terus menyaksikan parade kemenangan di tengah bayang-bayang dakwaan yang belum tuntas?



