Fungi di Balik Bukit Pasir: Penjaga Tersembunyi Ekosistem Pesisir
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 200 spesies jamur teridentifikasi dalam 90 menit pada foray tahunan di Treborth Botanic Garden, termasuk spesies invasif yang penyebarannya dikaitkan dengan perubahan iklim.
- Jamur berperan krusial dalam menstabilkan bukit pasir dengan membantu tanaman marram menyerap mineral, sebuah simbiosis yang jarang disadari.
- Istilah 'funga' kini diadopsi secara resmi, menandakan pengakuan global terhadap jamur sebagai komponen biodiversitas setara flora dan fauna.

Musim jamur telah tiba, dan bagi para pengamat alam di Inggris, momen itu ditandai oleh foray tahunan di Treborth Botanic Garden, Bangor University. Dalam acara yang digelar belum lama ini, 225 peserta berhasil mengidentifikasi lebih dari 200 spesies jamur hanya dalam waktu 90 menit—sebuah rekor yang menunjukkan betapa kayanya keanekaragaman fungi di kawasan tersebut.
Di antara temuan mencolok adalah Favolaschia calocera, atau orange ping-pong bat fungus, yang belum pernah dijumpai selama 50 tahun pengamatan. Spesies ini pertama kali tercatat di Inggris pada 2012 dan penyebarannya yang cepat di seluruh dunia diduga kuat terkait dengan perubahan iklim. Kemunculannya menjadi sinyal bahwa pergeseran iklim tidak hanya memengaruhi spesies besar, tetapi juga mikroorganisme yang selama ini terabaikan.
Namun, kejutan sesungguhnya datang dari lokasi yang tampak tidak ramah bagi kehidupan jamur: bukit pasir Aberffraw di pantai barat Anglesey. Di hamparan berpasir yang gundul dan terus bergerak, tim peneliti menemukan lingkaran peri yang dibentuk oleh dua jenis jamur payung—Macrolepiota mastoidea dan Marasmius oreades—serta spesies fibrecaps (Inocybe) dan webcaps (Cortinarius) yang sangat beracun di cekungan lembap. Temuan ini menegaskan bahwa ekosistem pesisir menyimpan keragaman hayati yang tak terduga.
Di balik keindahan dan keunikan tersebut, ada peran ekologis yang jauh lebih penting. Tanaman marram (Ammophila arenaria) adalah satu-satunya spesies di dunia yang mampu menstabilkan pasir dan membentuk bukit pasir tinggi. Namun, tanpa bantuan jamur, marram tidak dapat menambang mineral dan nutrisi dari pasir yang miskin hara. Jamur mycorrhiza dan dune brittlestem (Psathyrella ammophila) bekerja sama menguraikan akar-akar tua dan mendaur ulang nutrisi, memastikan kelangsungan hidup sang tanaman penjaga pantai.
“Tanpa fungi, marram akan kelaparan dan terkubur oleh pasir yang seharusnya ia tahan,” ujar salah satu pengamat dalam laporan tersebut, menyoroti ketergantungan mutualistik yang jarang disadari.
Kesadaran akan pentingnya fungi mulai mengglobal. Tahun ini, kata “funga” resmi diadopsi oleh Cambridge Dictionary dan para negosiator di konferensi COP17, menempatkannya sejajar dengan flora dan fauna. Langkah ini dianggap sebagai pengakuan yang sudah lama tertunda terhadap kingdom kehidupan yang selama ini terpinggirkan dalam kebijakan konservasi.
Bagi Indonesia, yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia dan ekosistem mangrove serta bukit pasir yang luas, pelajaran dari Anglesey ini relevan. Kerusakan bukit pasir akibat abrasi dan aktivitas manusia dapat diperparah jika komponen mikroba tanah diabaikan. Penelitian tentang fungi pesisir di Indonesia masih sangat minim, padahal perannya dalam menjaga stabilitas pantai dan ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim tidak bisa diremehkan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah fungi layak dilindungi, melainkan seberapa cepat kebijakan lingkungan mengintegrasikan “funga” ke dalam strategi konservasi. Jika tidak, kita mungkin kehilangan penjaga tak terlihat yang selama ini menopang lanskap pesisir—sebelum sempat memahami sepenuhnya apa yang mereka lakukan.



